Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Lombok Terendam Banjir Bikin Petani Rugi Puluhan Juta Rupiah

Maulana Ijal • Minggu, 30 Oktober 2022 | 18:40 WIB
Petani cabai di Kabupaten Pacitan terlihat sedang mencabuti tanaman setelah mati terendam banjir, sehingga petani terpaksa gigit jari tidak menikmati hasil panenan
Petani cabai di Kabupaten Pacitan terlihat sedang mencabuti tanaman setelah mati terendam banjir, sehingga petani terpaksa gigit jari tidak menikmati hasil panenan
PACITAN, RADARJEMBER.ID - Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Peribahasa itu yang menggambarkan derita petani cabai di Pacitan. Mereka mengalami gagal panen setelah tanaman cabai mereka itu terendam banjir beberapa waktu lalu.

Sutikto salah satu petani lombok , Warga Dusun Kedawung, Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan itu terpaksa mencabuti 3.600 batang tanaman cabai rawit milik dia akibat bencana hidrometeorologi tersebut. "Tentu rugi sekali. Apalagi belum dipetik sudah mati,’’ ujar Sutikto .

https://radarjember.jawapos.com/internasional/30/10/2022/korea-berduka-peringatan-halloween-di-itaewon-memakan-149-korban-jiwa/

Dia mengungkapkan banjir lalu telah merontokkan bunga tanaman cabai dan membunuh akar tunjang. Berdampak tanaman cabai menjadi layu dan tak mungkin bisa dipanen. ‘’Kalau sudah kena banjir dipastikan gagal panen,’’ ujar petani lombok tersebut.

Di Desa Mentoro terdapat 2,5 hektare lahan yang ditanami cabai rawit oleh warga. Dari luas lahan tersebut, sekitar 10 ribu batang tanaman cabai telah mati terdampak banjir. Kondisi itu membuat petani merugi hingga puluhan juta rupiah.

‘’Punya saya saja 3.600 batang. Itu modalnya sekitar Rp 30 juta, mulai dari benih, perawatan sampai pupuk dan obatnya,’’ terang Sutikto.Selain cabai, Sutikto mengaku tanaman tembakau di lahan seluas satu hektare miliknya juga mati.

Sementara, kedelai milik dia  di lahan seluas 2 hekatre terpaksa panen dini.‘’Meskipun kedelai bisa dipanen, tapi karena dipetik lebih awal jadi ukurannya masih kecil-kecil. Padahal, kurang 10 hari (usia panen),’’ ungkap Sutikto. (*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Sugeng Dwi N/Jawa Pos Radar Pacitan

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Madiun Editor : Maulana Ijal
#Bencana Alam #Banjir