Sutikto salah satu petani lombok , Warga Dusun Kedawung, Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan itu terpaksa mencabuti 3.600 batang tanaman cabai rawit milik dia akibat bencana hidrometeorologi tersebut. "Tentu rugi sekali. Apalagi belum dipetik sudah mati,’’ ujar Sutikto .
https://radarjember.jawapos.com/internasional/30/10/2022/korea-berduka-peringatan-halloween-di-itaewon-memakan-149-korban-jiwa/
Dia mengungkapkan banjir lalu telah merontokkan bunga tanaman cabai dan membunuh akar tunjang. Berdampak tanaman cabai menjadi layu dan tak mungkin bisa dipanen. ‘’Kalau sudah kena banjir dipastikan gagal panen,’’ ujar petani lombok tersebut.
Di Desa Mentoro terdapat 2,5 hektare lahan yang ditanami cabai rawit oleh warga. Dari luas lahan tersebut, sekitar 10 ribu batang tanaman cabai telah mati terdampak banjir. Kondisi itu membuat petani merugi hingga puluhan juta rupiah.
‘’Punya saya saja 3.600 batang. Itu modalnya sekitar Rp 30 juta, mulai dari benih, perawatan sampai pupuk dan obatnya,’’ terang Sutikto.Selain cabai, Sutikto mengaku tanaman tembakau di lahan seluas satu hektare miliknya juga mati.
Sementara, kedelai milik dia di lahan seluas 2 hekatre terpaksa panen dini.‘’Meskipun kedelai bisa dipanen, tapi karena dipetik lebih awal jadi ukurannya masih kecil-kecil. Padahal, kurang 10 hari (usia panen),’’ ungkap Sutikto. (*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:Sugeng Dwi N/Jawa Pos Radar Pacitan
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Madiun Editor : Maulana Ijal