Terjadi Penambahan Kasus Gangguan Ginjal Akut Progresi di Jawa Timur

Safitri • Dipublikasikan Senin, 24 Oktober 2022 | 20:44 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Jatim, dr Erwin Astha Triyono, Sp.PD.
Kepala Dinas Kesehatan Jatim, dr Erwin Astha Triyono, Sp.PD.
Surabaya, RADARJEMBER.ID - Penambahan kasus Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) di wilayah Jawa Timur, tercatat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur, yang semula 22 kasus menjadi 30 kasus per tanggal 22 Oktober 2022.

BACA JUGA : Sudah Dua Hari Tim SAR Lakukan Pencarian Jasad Korban Hanyut di Jember

"Dari 30 kasus tersebut, pasien meninggal sejumlah 16 orang, pasien sembuh sejumlah delapan orang, pasien yang sedang dirawat sejumlah lima orang dan dinyatakan 'exclude' sejumlah satu orang," kata Kepala Dinkes Jatim, dr Erwin Astha Triyono, Sp.PD di Surabaya, Senin.

Dia menyatakan dari 16 kasus meninggal, terdapat empat pasien yang berdomisili di luar Jawa Timur.

Pasien yang masih dalam perawatan tersebar di beberapa rumah sakit yakni 1 orang di RSUD Soetomo Surabaya, 1 orang di RSUD Saiful Anwar Malang, 1 orang di RS Premier Surabaya (rawat jalan).

Kemudian, 1 orang di RS Universitas Muhammadiyah Malang dan 1 orang domisili Jawa Timur yang dirawat di RSUP Dr. Sarjito Yogyakarta.

"GGAPA ini merupakan penyakit gangguan ginjal yang belum diketahui penyebabnya," katanya

GGAPA yang dilaporkan di Indonesia khususnya di Jawa Timur, tambah Erwin, terjadi pada anak usia 0 sampai 18 tahun, di mana mayoritas terjadi pada anak balita usia 1 hingga 5 tahun.

"Gejalanya berupa penurunan volume atau frekuensi urin (oliguria) atau tidak ada urin atau tidak kencing sama sekali (anuria), disertai atau tidak disertai dengan gejala demam atau gejala prodromal lain (batuk, pilek, sesak, muntah, diare)," katanya.

Dia berpesan jika ada anak dengan gejala tersebut segera periksa ke dokter. Demikian juga kalau kencingnya tidak ada masalah, tapi ada gejala flu, sebaiknya segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan, jangan sampai terjadi gejala lanjut berupa oliguria maupun anuria.

"Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat Jatim, jika terjadi sakit apapun pada anak, jangan diobati sendiri, jangan minum obat sirup tanpa petunjuk dari dokter, segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga bisa ditangani sejak awal," katanya.

Sebagai upaya pencegahan (preventif), masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS).

"Upayakan pemenuhan nutrisi yang baik, berupa makanan bergizi seimbang, istirahat yang cukup, mencuci tangan memakai sabun dan air mengalir, hindari kerumunan dan kontak udara dingin berlebihan," jelasnya. (*)

Foto : FOTO ANTARA/Willy Irawan

Sumber : Antara Editor : Safitri
Ginjal