BACA JUGA : Optimis Kapolda Baru Bisa Jaga Jatim Tetap Kondusif
”Setelah mendapatkan kabar dari media lokal, sorenya saya langsung menuju TKP,” ujar Andre Omer Siregar, Konjen RI di Houstonr saat dihubungi kemarin (10/10). Andre telah bertemu langsung dengan Robert A. Brazil, suami Novita.
Dia menyampaikan belasungkawa mendalam atas musibah itu. Kondisi Robert disebut masih sangat terpukul atas tragedi menimpa sang istri. Sebagaimana diberitakan, Novita Brazil tewas setelah rumahnya di San Antonio, Texas, dihujani peluru oleh dua remaja berusia 14 dan 15.
Kejadian itu terjadi Selasa (4/10) pukul 01.30 waktu setempat. Aksi penembakan diduga terkait dengan keributan gangster itu disebut salah sasaran. Target sesungguhnya adalah rumah di dekat kediaman Novita.
Lebih lanjut, Andre mengatakan, pihaknya juga menemui kepolisian setempat untuk mendapatkan informasi soal tragedi itu. Keterangan yang diperoleh sama seperti diberitakan media lokal.
KJRI Houston, lanjut dia, menerima permintaan repatriasi jenazah dari keluarga Novita di Indonesia. Keluarga menginginkan jenazah dimakamkan di Semarang. Karena itu, pihaknya langsung membantu pengurusan administrasi yang harus dilengkapi untuk kepulangan jenazah .
”Kami telah bertemu dengan Sekda Negara Bagian Texas John B. Scott untuk meminta bantuan agar dapat mempercepat proses administrasi pemulangan jenazah, antara lain dengan menerbitkan certificate of death oleh instansi terkait,” papar Andre.
Menurut dia, pemulangan jenazah dari Amerika Serikat ke Indonesia membutuhkan waktu cukup lama. Khususnya terkait dengan penerbitan dokumen kematian oleh Departemen Kesehatan setempat.
Bisa memakan waktu hingga sebulan. ”Namun, karena hubungan terjalin baik dengan pemerintah setempat, mereka menjanjikan bisa lebih cepat,” tuturnya. Sementara itu, Jawa Pos Radar Semarang kemarin menemui keluarga Novita.
Keluarga korban tinggal di Jalan Pudakasri II, Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Rizki Aulia Putra, adik korban nomor dua, menjelaskan bahwa keluarganya mendapat kabar duka itu setelah di-video call suami korban pada Selasa (4/10) pagi.
Namun, hingga kemarin, keluarga belum tahu kapan jenazah Novita tiba di Kota Semarang. Nani Muldiyani, 50, ibu korban, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kehidupan putrinya.
Telapak tangannya mengusap air mata sembari memeluk kerabat yang duduk di sebelahnya. ”Maaf, saya ingat terus, sudah tujuh harinya. Kelingan meneh,” kata Nani lirih sembari mengusap air mata.
Istri Ade Sutisna, 53, itu berusaha tegar. Nani mengaku sering curhat dengan putri sulungnya itu. ”Memang Novita itu anaknya baik. Setiap kali mamanya butuh apa, oke, selalu oke. Dia juga selalu cerita sama teman-temannya,” ujar Nani.
Dia kali terakhir bertemu dengan putrinya itu pada Maret lalu. Ketika itu korban pulang ke Semarang. ”Dia kerja di hotel di Texas, baru satu bulan. Dia ikut suaminya, kerja di sana. Menikah tahun 2020. Suaminya anggota Angkatan Udara.”tegas Nani.
Sudah 1,5 tahun di sana. Sebelumnya Novita di Jerman,” jlentreh Nani. Informasi dihimpun Jawa Pos Radar Semarang, Novita merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Perempuan kelahiran 21 November 1996 itu sekolah di SD di sekitar asrama Kodam IV/Diponegoro.
Sebelum tinggal di luar negeri, dia pernah bekerja di hotel ternama di wilayah Kecamatan Candisari, Kota Semarang. Novita dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan pantang menyerah.
Pendidikannya juga tinggi. Salah seorang kerabat korban, Maria Fransisca, mengatakan, Novita mengenyam pendidikan sarjana di Prancis. Lalu, gelar master didapat Novita dari salah satu universitas di Jerman. (*)
Editor : Winardyasto HariKirono
Foto:Jawa Pos Radar Semarang
Sumber Berita: Jawa Pos Radar Semarang
Editor : Safitri