BACA JUGA : Kapolri Umumkan 6 Tersangka Tragedi Kanjuruhan, Tiga Diantaranya Polisi
Beruntung, tidak ada siswa di dalam kelas tersebut. Sebab, semuanya di lapangan karena waktunya pelajaran olahraga. “Saya baru tahu dari penjaga sekolah kalau eternit (plafon, Red) ruang kelas V itu ambrol. Setelah menerima laporan, saya langsung menuju ruang kelas V yang biasa ditempati 27 siswa,” ujar Bahariyanto. Kepala SDN Badean 1.
Saat datang ke kelas, kalimat pertama yang diucap Bahariyanto adalah alhamdulillah. “Setelah saya ke kelas, siswa sedang keluar semua karena waktunya olahraga di lapangan samping sekolah,” ujarnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, seluruh plafon ruang kelas tersebut runtuh. Padahal, kerangka langit-langit kelas itu tidak terbuat dari kayu, melainkan baja ringan. Bagian kerangka kuda-kuda atapnya juga dari baja ringan.
Bahariyanto mengaku, kondisi ruang kelas V itu sudah rusak parah. Bagian kusen jendela dan plafon-plafon sudah lapuk dimakan rayap. “Memang tidak ada rayap kalau dilihat sepintas. Tetapi, setelah didekati, kaca jendela sudah lepas dari kusen jendela, karena dimakan rayap,” paparnya.
Sebenarnya sebelum plafon ruang kelas V ambrol, pihak sekolah sudah melaporkan kepada Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember. Selain kusen jendela yang keropos, bagian lantai dari keramik juga berlubang.
Seluruh siswa kelas V yang berjumlah 27 terpaksa menempati ruang yang kosong setelah pelajaran olahraga. Mereka memakai ruang perpustakaan yang kosong untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).
Dia berharap ada tindakan perbaikan secepatnya pada sekolah rusak di Jember, termasuk sekolahnya. Sebab, bila kejadian runtuhnya plafon saat KBM, maka akibatnya fatal. Terlebih lagi pelajarnya masih anak-anak. (jum/c2/dwi) Editor : Safitri