Kasat Polair Polres Jember di Puger AKP M Na’i mengatakan, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, pihaknya telah mengecek langsung dampak banjir rob itu di lokasi. Menurutnya, kondisinya cukup membahayakan bagi para pedagang yang membuka lapak di sana. Sebab, gelombang air pasang itu telah mencapai warung.
“Sampai ini gelombang masih tinggi. Untuk itu kami mengimbau agar para pemilik warung bergeser ke tempat lebih aman. Khusus bagi nelayan agar jangan bekerja dulu sampai gelombang dan ombak mereda,” katanya, Rabu (31/8).
BACA JUGA: Gelombang Pasang Hantam Warung Pedagang di Pesisir Selatan Jember
Pantai Cemara merupakan wisata berbasis alam yang dikelola warga setempat. Dari pusat kota Jember, lokasinya cukup jauh. Membutuhkan waktu sekitar 80 menit menggunakan sepeda motor dengan jarak sekitar 50 kilometer. Di kawasan ini, para pedagang banyak yang mendirikan warung semi permanen. Kebanyakan adalah warga sekitar.
Pada hari libur seperti akhir pekan atau libur hari besar, Pantai Cemara cukup ramai dikunjungi wisatawan lokal. Selain aksesnya yang mudah karena berada di pinggir Jalur Lintas Selatan (JLS), biaya masuknya juga gratis. Wisatawan cukup membayar 5.000 ribu untuk penitipan kendaraan.
Namun, pasca terjadinya gelombang pasang ini, Satpolair mengimbau agar wisatawan menunda rencana kunjungannya. Sebab, berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gelombang tinggi diprediksi masih akan terjadi antara dua hari hingga sepekan ke depan. “Diperkirakan cuaca masih ekstrem. Jadi kami mengimbau agar semua pihak mengutamakan keselamatan,” pungkas M Na’i.
Kondisi Pantai Payangan
Selain di Pantai Cemara dan Pantai Getem, kawasan yang juga terdampak banjir rob adalah Pantai Payangan di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember. Di lokasi ini, gelombang pasang sempat menggenangi area parkir wisata hingga jalan. Namun, tidak ada laporan soal kerusakan rumah maupun warung milik pedagang yang berdiri di sepanjang bibir pantai.
Yanto, warga Payangan, Sumberejo, mengungkapkan, saat terjadi banjir rob kemarin, banyak warga dan pedagang yang sedang menonton karnaval. Meski demikian, para pemilik sudah mengantisipasi dengan memindahkan kursi dan meja dagangan ke tempat aman. “Memang ada pemilik yang sudah mengamankan kursi dan meja ke tempat yang aman. Setelah itu, ditinggal pergi menonton karnaval,” ujar lelaki 30 tahun tersebut.
Menurutnya, gelombang air pasang itu berlangsung siang hari, sehingga pemilik warung bisa mengantisipasi dampak banjir rob tersebut. Meski tidak ada warung yang rusak, namun air laut sempat masuk dan menggenangi lapak para pedagang. "Biasanya ombak tambah besar. Apalagi warung saya ini berada di bibir pantai. Jadi, saya harus menyelamatkan barang-barang di warung terlebih dulu," ujar pemilik warung yang berada di dekat Bukit Seruni dan Samboja tersebut. (*)
Reporter: Jumai
Foto : Satpolair untuk Radar Jember
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal