Vespa milik Sapto ini bervariasi, ada skuter jadul produksi tahun 1960-an hingga keluaran 2000-an, Sapto sendiri merupakan salah seorang pejabat di lingkup Pemkab Ponorogo, ia sangat mencintai skuter tersebut, sehingga semua koleksi skuter itu terlihat masih mulus dan berfungsi normal tanda rajin dirawat.
Pria ramah dan berkumis itu mengaku, mulai mencintai sepeda motor jenis skuter sejak duduk di bangku SMA. Kali pertama dia memiliki Vespa PS, namun, belakangan dijual.Dulu belum ada niat mengoleksi, terbesit mulai kepingin memiliki Vespa lagi tiga tahun lalu hingga sekarang ini dan semakin menggilai skuter.
Asisten administrasi umum Sekretariat Daerah Ponorogo itu, memiliki koleksi enam Vespa berbagai tipe dan tahun produksi berbeda. Yakni, VBB 1963, Sprint Bagol 1973, Sprint 1974, PTS 1978, Super 1982, dan PX 2000. Selain memiliki model unik, solidaritas komunitas Vespa membuat ia semakin jatuh hati kepada Vespa dan boleh dikata Vespa sulit dipisahkan dari diri Sapto pria humoris itu.
“Lebih enak bila naik berkecepatan sedang sehingga bisa lebih menikmati perjalanan., apalagi saya merasa di usia menginjak 56 tahun sudah tidak pantas kebut-kebutan. Pelan-pelan saja, keliling kota. Kadang-kadang mencoba rute luar kota mengajak teman-teman penggemar Vespa lain selain itu juga nongkrong bareng membahas motor dan pekerjaan,’’ terang suami Aida Fitriana Miyasari itu.
Bagi pria tersebut dan saat ini juga berprofesi sebagai dokter hewan itu, mengoleksi Vespa sekaligus merupakan investasi. Sebab, harga kendaraan legendaris itu cenderung terus naik. Perawatan mesin pun mudah dan tidak sulit mendapatkan onderdil di pasaran, itulah alasan kenapa Sapto tetap bertahan untuk tetap mengoleksi Vespa.(*)
Editor:Winardyasto
Foto:Istimewa/ Jawa Pos Radar Madiun
Sumber Berita: Jawa Pos Radar Madiun Editor : Alvioniza