Aktivitas tersebut memang terlihat meriah, bahkan anak kecil ikut melihat arak-arakan sahur itu sembari menahan kantuk, terkadang mereka turut berjoget mengikuti hentakkan irama musik dari pengeras suara dan diletakan di atas bak terbuka mobil pikap. Tentu melihat kelucuan tersebut, menjadikan penonton lain mengumbar tawa.
Musik terus bergema dan mobil pengangkut sound sistem tetap berjalan meski dalam kecepatan lambat, sontak seketika desa itu itu berubah ramai dan umat Islam bergegas bangun untuk sahur setelah dikagetkan oleh suara musik tersebut. Arak-arakan sahur tersebut terasa istimewa karena diikuti pula oleh umat Kristiani. Bahkan mereka ikut berjalan kaki keliling kampung di pagi hari itu.
Seperti dituturkan oleh Kyai Syahrowi, Pengasuh TPQ Darul Huda, Dusun Reco Banteng, tradisi membangunkan orang sahur sudah berlangsung di desa itu. Tokoh agama tersebut menerangkan, warga desa itu sangat menghargai toleransi beragama. Hal itu terlihat menjelang waktu sahur, orang Nasrani ikut ambil bagian dalam rutinitas pagi hari di bulan Ramadan.
“Toleransi beragama di Desa Suwaru, Malang, terlihat di arak-arakan Sahur dan telah ada dari dahulu. Hal ini tentu bisa dijadikan contoh lain bagi desa lain di Indonesia, bahwa perbedaan agama jangan digunakan jadi alat permusuhan. Di desa ini meskipun terdapat warga non muslim, nanum satu sama lain tetap saling menghormati seperti saudara sendiri,” kata Syahrowi.(*)
Penulis Berita: Winardyasto
Foto: Suharto/Radar Malang
Sumber Berita: Radar Malang
Editor : Alvioniza