Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

So Sad, 98 Persen Orang Indonesia Merasa Kesepian Selama Pandemi

Alvioniza • Senin, 16 Agustus 2021 | 07:24 WIB
ILUSTRASI STRES
ILUSTRASI STRES
JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Selama pandemi ini sebagian besar orang dihadapkan pada situasi yang cukup sulit. Selain menyerang ekonomi dan kesehatan fisik pandemi ini juga berdampak pada kesehatan mental masyarakat. Beberapa orang merasa kesepian dan ingin menyakiti diri sendiri.

Into the light dan Change.org melakukan survei terkait kesehatan mental masyarakat Indonesia pada periode mei hingga juni lalu. Hasil survey menunjukan hampir semua partisipannya yang terdiri dari 5.211 orang dari enam provinsi di pulau jawa merasa kesepian.

Selama periode survei dilakukan 98 persen partisipan merasa kesepian dalam satu bulan terakhir, dua dari lima partisipan bahkan merasa lebih baik mati dan melukai diri sendiri dalam dua minggu terakhir.

Peneliti Pascadoktoral dari University of Macau sekaligus mitra Into The Light Andrian Liem mengatakan bahwa stigma dan pandangan negatif terhadap bunuh diri masih sangat kuat.  Berdasarkan dari hasil survei ditemukan 40 persen responden yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri dan melukai diri sendiri dalam dua minggu terakhir. Hal ini terlihat dari banyaknya partisipan yang menjawab seluruh pertanyaan tentang fakta dan mitos bunuh diri dengan benar.

“Misalnya saja partisipan menganggap bahwa menanyakan keinginan bunuh diri kepada seseorang akan memicu keinginan bunuh diri sebagai fakta. Padahal ini adalah mitos, justru menanyakan hal tersebut dapat membantu meencegah keinginan orang untuk bunh diri ,” ujar Andrian yang dikutip dari Manadopost.

Hasil survei menunjukan hampir 70 persen dari total partisipan mengaku tidak pernah mengakses layanan kesehatan mental karena alasan biaya yang tidak bisa dijangkau.

Selain itu banyak partisipan survei yang menganggap bahwa anggota keluarga dan teman dekat yang berjenis kelamin sama sebagai sosok yang diyakini dapat membantu dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa dibandingkan tenaga kesehatan jiwa professional. Oleh karena itu mereka tidak berpikir untuk melakukan konseling kepada psikolog atau psikiater.

“Keyakinan ini menunjukan partisipan membutuhkan dukungan sosial. Tetapi perlu diingat bahwa tenaga kesehatan jiwa professional lebih memiliki keahlian dalam menangani kesehatan mental dan dapat menjaga rahasia klien yang berkonsultasi,” terang Andrian.

 

Source: Manado Post
Fotografer: Dok. Radar Jember
Editor: Mahrus Sholih

  Editor : Alvioniza
#Covid-19 #Lifestyle