Pada awal pementasan, kerja keras dan latihan mereka yang ada di atas pentas atau di belakang layar mendapat apresiasi yang pantas. Setara dengan karya musik dan lagu yang didendangkan. Iringan tarian khas yang diciptakan, semakin menjadi magnet yang menenangkan. Orang yang melihat pun merasa bungah dan bangga.
Orang yang memandang penampilan Linkrafin selama lomba Kamu Aku di Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif (Kemenparekraf) di Jakarta itu, seketika kagum. Bukan saja penonton, Menteri Sandiaga Uno dan dewan juri pun terpukau menyaksikan kearifan lokal Jember yang disajikan itu. Sebuah mahakarya yang dihasilkan dari kekayaan budaya.
Selain Jamsari, vokalis kejhung, seni bernyanyi kuno khas Madura, yang menggetarkan sukma, juga ada empat vokalis lain yang sangat membius. Masing-masing adalah Azki Zarkasi Muhammad, Dian Komala, dan Aiga Diva. Satu lagi sinden Jawa, Dea Ananda Melati. Selain para vokalis, ada puluhan seniman, pelaku industri, dan kreator yang terlibat di dalamnya.
Lagu Jember Nusantara dibawakan dengan tarian yang menggabungkan semacam teatrikal. Mengisahkan tentang Jember yang merupakan bagian Nusantara. Penyajiannya mewakili etnis Jawa-Madura, serta multietnis yang ada di Jember. Sepanjang lagu ini dinyanyikan dengan berbagai vokal, sepanjang itu pula orang yang menyaksikan dalam puncak lomba merasa takjub. Menyentuh hati hingga perasaan berbunga-bunga.
Linkrafin dengan karyanya mampu menyabet juara 1 dan favorit bukan sebuah kebetulan. Bukan pula karena tak ada pesaing yang tangguh. Akan tetapi, karya Linkrafin benar-benar berkelas. Andai saja karya itu kaleng-kaleng, bisa jadi dalam babak penyisihan, lima besar, dan saat final akan tersisih menghadapi 416 komunitas lain yang berasal dari segala penjuru di Indonesia. Tetapi, lagu Jember Nusantara menumbangkan seluruh karya lain dalam ajang terbuka itu.
Ketua Umum sekaligus founder Linkrafin, Yudho Andriansyah mengatakan, Jember Nusantara merupakan lagu tradisional kontemporer. “Lagu ini menggambarkan Jember sebagai bagian dari khazanah wilayah eksotis berupa lembah di timur pulau Jawa,” katanya.
Tak hanya itu, lagu tersebut juga menggambarkan tentang percampuran budaya Jawa-Madura dan multietnis di Jember. “Hal itu yang kemudian menjadi ilustrasi yang dikolaborasikan dalam syair kejhung dan syair sinden Jawa yang dirangkum di dalamnya,” papar Yudho.
Ketua Harian Linkrafin Bobby Rahadyan mengungkapkan, selain para vokalis yang terlibat, ada berbagai alat musik yang mengiringi. Alat-alat musik yang dimainkan juga lahir atas percampuran banyak kebudayaan. Ada alat musik patrol dengan instrumen khas Jember yang terbuat dari bambu berbentuk kentongan. “Itu menjadi baseline atau dasar dari keseluruhan lagu Jember Nusantara,” bebernya.
Selain itu, kekayaan wajah Nusantara, menurut Bobby, juga diwakili oleh kehadiran bunyi dan ritmik pada alat musik khas daerah lain. Hal ini dihadirkan sebagai bentuk persahabatan bunyi berupa harmoni. Instrumen tersebut di antaranya piano klasik, gitar sape Kalimantan, gamelan Jawa, seruling Sunda, saronen atau terompet khas Madura, serta kolaborasi notasi modern dengan kemunculan musik elektronik. “Semua itu dicampur dan dipadukan, tanpa meninggalkan kekhasannya lewat dominasi musik patrol,” ulasnya.
Serangkaian percampuran budaya, vokal, alat musik, serta pakaian yang dikenakan saat tampil, kemudian menjadi gambaran bahwa Jember sebagai wilayah yang kaya akan ragam suku, bahasa, dan budaya. “Itulah Jember Nusantara yang menjadi juara,” jelasnya.
Yudho dan Bobby mengaku, Linkrafin ke depan akan terus berkarya untuk Jember. Ikut membangkitkan dan menyemangati seluruh warga agar terus kreatif. Berbuat maksimal dan terus berbuat yang terbaik demi mengharumkan nama Jember.
Jurnalis : Nur Hariri
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Radar Digital