Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bersihkan Seragam Silat dari Premanisme

Radar Digital • Jumat, 21 Mei 2021 | 16:30 WIB
JALANI PROSES HUKUM: Sejumlah pelaku perusakan tugu IKSPI Kera Sakti yang berhasil diamankan Polsek Puger. Sedikitnya, ada empat pelaku yang ditangkap, 13 lainnya masih buron.
JALANI PROSES HUKUM: Sejumlah pelaku perusakan tugu IKSPI Kera Sakti yang berhasil diamankan Polsek Puger. Sedikitnya, ada empat pelaku yang ditangkap, 13 lainnya masih buron.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Insiden pemukulan yang dilakukan oleh oknum perguruan silat di Jember makin kerap terjadi hingga meresahkan masyarakat. Pelakunya berasal dari berbagai wilayah atau kecamatan. Meski sebagian sudah diamankan oleh kepolisian, namun banyak pula yang sampai hari ini belum tertangkap. Mereka ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO) kepolisian alias buron.

Selain jumlah pelaku yang banyak, motif kasusnya pun beragam. Berawal dari cekcok sampai berakhir dengan adu jotos. Hingga soal atribut perguruan silat, tugu perguruan silat, sampai persoalan masker yang berlambang salah satu perguruan.

Rentetan perkara yang terjadi ini mengindikasikan bahwa penindakan hukum terhadap kasus-kasus tersebut belum memberi efek jera. Akibatnya, kasus serupa terjadi lagi dan lagi. Aksi oknum perguruan silat itu pula yang menyulut perhatian masyarakat. Warga sudah jengah dengan beragam kekerasan itu. Mereka menilai, seyogianya ilmu bela diri dipergunakan untuk hal-hal positif, bukan sebaliknya.

Catatan Jawa Pos Radar Jember sebulan terakhir ini saja, ada lima kasus yang melibatkan anggota perguruan silat. Empat kasus penganiayaan, dan satu kasus perusakan tugu perguruan silat lain. Tiga perkara penganiayaan dan perusakan telah ditangani oleh kepolisian. Aparat juga menetapkan beberapa tersangka. Sementara, kasus teranyar, soal pemukulan di Ambulu, masih belum diketahui siapa pelakunya.

Kasus pemukulan terbaru ini menimpa seorang santri GASMI, salah satu aliran seni bela diri Pagar Nusa, Rabu (19/5) malam. Saat itu, korban yang berasal dari Jatiroto, Lumajang, tengah mengenakan masker bertulis Pagar Nusa (PN). Dia mendadak diserang oleh sejumlah orang tak dikenal hingga babak belur di sekitar jalan menuju arah Watu Ulo, Kecamatan Ambulu.

Peristiwa tersebut memantik GASMI Jember mengawal proses hukumnya ke pihak kepolisian dengan melaporkan tindakan pidana tersebut ke Polsek Ambulu. Namun, pihak Kepolisian Ambulu justru bungkam saat dikonfirmasi. Mereka enggan memberikan komentar.

Kendati GASMI Jember menegaskan korban pemukulan itu bukan warganya, melainkan Warga GASMI Pagar Nusa Ranting Jatiroto, Cabang Lumajang, namun pihaknya tetap mengawal kasus itu. "Oleh sebab itu, kami imbau kepada seluruh warga GASMI Jember maupun Lumajang agar tetap tertib. Menunggu komando ketua, sambil menunggu pihak kepolisian," tegas Denis Irawan, Sekretaris GASMI Jember, saat memberikan pernyataan terbuka yang diterima Jawa Pos Radar Jember, kemarin (20/5).

Di tempat terpisah, Kepolisian Sektor Puger juga membikin pers rilis tentang kasus pidana yang juga dilakukan oknum perguruan silat. Kali ini, yang dilakukan adalah perusakan tugu milik warga Ikatan Pencak Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti di Dusun Lengkong, Desa Wonosari, Kecamatan Puger.

Kapolsek Puger AKP Ribut Budiyono menjelaskan, kasus perusakan tugu yang terjadi pada Sabtu (15/5) dini hari itu dilakukan oleh oknum dari perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Puger. Menurutnya, tugu itu dirusak karena warga PSHT tidak terima ada tugu perguruan silat lain yang berdiri di wilayah Wonosari.

"Dari kasus tersebut, kami mengamankan empat tersangka. Sementara, 13 lainnya kami tetapkan sebagai DPO," terangnya, saat pers rilis di kantor polsek, kemarin. Bahkan, pihaknya juga mengamankan satu pelaku lagi pada kasus pemukulan lain yang terjadi di Sukorambi, Jumat (14/5) lalu.

Kasus yang melibatkan anggota perguruan silat sejauh ini masih menuai pertanyaan. Sebab, ada beberapa fakta yang belum terungkap semua. Saat dikonfirmasi, Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jember Agus Syafaat mengaku belum mengetahui pasti detail kejadiannya. Ia masih berencana untuk mengumpulkan informasi yang lebih lengkap atau komprehensif. "Kami belum tahu pasti kejadian lengkapnya. Kami akan cek dulu informasi dan kebenarannya," kata Agus.

Ketua PSHT Jember Jono Wasinudin juga membenarkan terkait peristiwa pemukulan yang terjadi terakhir di Ambulu. Namun, ia juga belum memastikan kebenarannya, siapa pelaku dan siapa korban sebenarnya. Sebab, saat itu ia juga menerima laporan bahwa anak PSHT juga dikeroyok sekelompok orang tak dikenal di Pantai Love, Ambulu. "Yang ngeroyok anaknya mabuk (di bawah pengaruh minuman keras, Red), dan sampai anak PSHT lari," terangnya.

Kompleksitas kasus yang menyeret antarperguruan silat ini menjadi tugas berat pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus serupa. Sejauh ini, baru kasus perusakan tugu milik IKSPI Kera Sakti di Wonosari dan Sukorambi saja yang tertangani hingga menetapkan sejumlah tersangka. Sementara itu, yang kasus terbaru di Ambulu masih dalam penyelidikan kepolisian.

Dikonfirmasi terpisah, Kasatreskrim Polres Jember AKP Komang Yogi Arya Wiguna membenarkan. Menurut dia, kasus tersebut telah masuk dan ditangani kepolisian. "Kejadian tersebut masih kami lakukan penyelidikan dan pengumpulan keterangan dari saksi-saksi," ucapnya.

Ia menegaskan, tak ada toleransi dan kompromi terhadap perilaku melanggar hukum seperti itu. Bahkan, ia juga mengharapkan adanya dukungan berbagai pihak untuk sama-sama menyelesaikan kasus tersebut. "Mohon doanya, biar bisa segera terungkap," tutupnya.

 

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Radar Digital
#Pencak Silat #psht #Kriminalitas