Selain itu, warga Jl Letjend Soeprapto IV, Lingkungan Sumberdandang, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari tersebut, pernah pula meraih tingkat satu nasional di tahun 1985. Kala itu, Sambung bisa disetarakan dengan petinju nasional seperti Monot asal Malang dan Edward dari Papua.
“Awal naik ring tinju umur 15 tahun. Tergabung di sasana Raung Boxing Camp selama sembilan tahun. Di usia muda itu, debut karir saya sebagai petinju, kerap main tinju di kegiatan pasar malam, hingga keluar masuk desa. Dan waktu itu cuma memperoleh hadiah uang Rp 5.000,” ungkap Sambung.
Atlet kelahiran 6 Juli 1966 itu menekuni tinju lantaran saat duduk di sekolah dasar (SD) suka berkelahi sesama teman. Bahkan kakak kelas Sambung memilih menghindar dan takut mendekati dia, serta tidak berani mencari permasalahan kalau tidak ingin dipukul.
Dari sasana tersebut, ia lantas berpindah ke Sasana Golden Hands dan bertahan tiga tahun sebelum memutuskan berhenti sebagai petinju di usia 27 tahun. Sambung sendiri telah mengikuti berbagai pertandingan tinju profesional super bantam. Di kelas ini, berat badan tidak boleh lebih dari 55,3 Kg.
Kini, di usia 54 tahun dan telah 29 tahun menggantung sarung tinju, bapak tiga anak itu tinggal berdua bersama Sulastri, istri tercinta. Kake enam orang cucu itu menikmati hari tua di rumah sederhana yang dibeli dari hasil tinju.
Keseharian Sambung sekarang sebagai penjaga keamanan kandang ayam di Dusun Curah Welut, Desa/Kecamatan Ajung. Saban hari, dia berangkat pagi dan baru kembali ke rumah sore hari sekitar pukul 16.00. Pekerjaan itu telah dia lakoni selama tiga bulan terakhir ini.
Kepada Radar Jember, Sulastri istri Sambung, bercerita, sebelum pandemi, suaminya kerap dipanggil orang untuk melatih tinju. Dan itu dilakukan tiga kali seminggu dengan mendapatkan imbalan lebih dari cukup. Pekerjaan ini berlangsung selama empat tahun.
Namun sekarang, suaminya tidak lagi melatih karena Covid -19. Dan bila berada di rumah lebih sering menghabiskan waktu sambil nonton televisi sebagai hiburan. Apalagi sekarang kondisi sang suami juga tidak selincah dulu. “Akibat sering mendapat pukulan dari lawan ketika berada di ring tinju, kini jalannya tidak stabil,” ungkap Sulastri.
Iko dan Yudha, anak petinju legendaris itu sempat mengikuti jejak sang ayah dengan turun ke ring tinju. Meski tidak terlalu lama, dan hanya petinju pemula di kelas terbang, tapi salah satu dari keduanya itu sempat meraih prestasi sebagai juara satu di tingkat Jawa Timur.
Jurnalis: Winardyasto
Fotografer: Winardyasto
Redaktur: Mahrus Sholih Editor : Radar Digital