Kepada Jawa Pos Radar Jember, Yono menunjukkan luka iritasi di kulitnya. Meski tertutup dengan cat silver, namun bentol-bentol di kulitnya samar-samar terlihat. Iritasi itu tak lain disebabkan oleh cat yang melumuri sekujur tubuhnya. Dia adalah satu-satunya Manusia Silver yang berjuang mencari nafkah di Jember.
Ia mengais rezeki di sudut-sudut persimpangan jalan dari para pengendara yang melintas. Siang itu, Yono mencari peruntungan di persimpangan jalan menuju Alun-Alun Jember. Sengaja tampil berbeda, agar dia bisa menjadi perhatian pengguna jalan. Harapannya, ada uang receh yang diberikan untuknya.
Setiap kali lampu merah menyala, Yono langsung bergaya bak patung di hadapan para pengendara. Setelah itu, ia menghampiri satu per satu pengemudi mobil dan motor tersebut. Cara itu rupanya cukup berhasil. Beberapa pengendara yang tengah berhenti mengulurkan tangan dan memberikan sejumlah rupiah kepadanya.
Yono tampak tersenyum semringah. Ia menundukkan kepala sembari mengucapkan terima kasih kepada pengendara yang memasukkan uang ke kardus yang ia sodorkan. Bahkan, ada saja pengendara mobil yang berhenti lalu memanggilnya.
Pekerjaan ini bukanlah hal baru bagi Yono. Selama pandemi, dia terpaksa bekerja sebagai pengamen dengan mengecat sekujur tubuhnya. Sebelumnya, ia mengecat tubuhnya dengan warna hijau menyerupai tokoh kartun Hulk. "Karena catnya terlalu keras, kulit saya sakit. Iritasi. Dan susah untuk dihilangkan," katanya.
Yono merupakan warga asal Cirebon. Saban hari, ia bekerja sebagai penjual makanan ringan di sekolah-sekolah. Karena selama pandemi sekolah libur, pekerjaannya pun otomatis mandek. Yono mengatakan, demi menyambung hidup dia mengubah penampilannya sebagai Manusia Silver. Ini dilakukan karena sudah tidak ada pilihan lain.
Kenapa memilih Jember? Yono mengaku, sengaja memutuskan hijrah ke Jember karena beberapa tahun lalu, dia pernah berjualan di Kota Suwar-Suwir ini. Sehingga dirinya merasa lebih akrab dengan medan di Jember. "Dulu saya pernah jualan di sini," ungkapnya.
Di Jember, Yono belum genap sepekan. Baru lima hari. Dia tinggal di sebuah kos-kosan dekat Terminal Tawangalun. Hari ini adalah kali perdananya dirinya mengamen di perempatan jalan. Sebelumnya, Yono berkeliling di perumahan dan permukiman penduduk.
Yono pun berharap, pandemi segera berlalu. Sehingga dirinya bisa secepatnya beraktivitas normal kembali dengan berdagang ke sekolah-sekolah. Ia juga tak ingin berlama-lama menjadi Manusia Silver lagi. Dia menyadari, dampak menjadi Manusia Silver dapat berbahaya pada kulit dan kesehatannya.
Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Radar Digital