Penelusuran Jawa Pos Radar Jember ke salah satu wilayah hulu, tepatnya di Desa Patemon, Kecamatan Arjasa, menunjukkan, kedua sisi tangkis sungai hanya memiliki ketinggian sekitar 3-5 meter. Padahal, jika dibandingkan dengan ketinggian tangkis di wilayah selatan Sungai Bedadung, ketinggian mencapai lebih dari 10 meter.
Sejumlah warga sekitar sungai di daerah itu menuturkan, saat banjir akhir Januari lalu itu, kawasan itu juga menjadi daerah pertama yang terkena dampak banjir. "Di sekitar sini sudah banjir. Tapi, karena rumah warga masih jauh dari sungai, jadi tidak ada yang terkena banjir," kata Ana, warga yang tinggal tak jauh dari sungai itu.
Tangkis di sekitar Desa Patemon, menurut dia, masih lebih baik. Sebab, meskipun rendah, di kedua sisi sungai terdapat lahan yang juga berfungsi sebagai penahan alami. Justru yang parah saat banjir itu adalah daerah Antirogo, yang lokasinya tidak jauh dari Desa Patemon. "Kedua tepi sungainya rendah, dan banyak rumah di pinggir sungai. Jadi, banyak warga terkena dampak luapannya dulu itu," sambung Ferdi, warga sekitar sungai lainnya.
Pascabanjir, aliran Sungai Bedadung yang diketahui berasal dari Desa Sucopangepok itu cukup mudah diketahui warga sekitar. Misalnya, meskipun cuaca daerah mereka cerah, namun di utara mengalami mendung gelap, bisa dipastikan volume air Sungai Bedadung bakal kembali meningkat. Tanda alam itu dinilai warga efektif sebagai evakuasi dini dari bencana banjir luapan.
Jurnalis : Maulana
Fotografer : Maulana
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri