Tepat di jembatan, dia berhenti. Motornya dititipkan ke warga dan dia langsung turun ke permukiman di bantaran Sungai Bedadung. Sutris bukanlah warga Jalan Sumatera, juga bukan warga terdampak banjir. Namun, dia adalah kerabat dekat salah satu keluarga yang terdampak banjir.
Kedatangan Sutris rupanya juga diikuti beberapa kerabat lain yang datang ke rumah Maksum, saudaranya yang terdampak banjir. Namun, di antara keluarga itu berkumpul, tidak ada anak kecil di sana. “Semua anak-anak sudah saya titipkan ke rumah saudara yang di atas. Kalau yang di sini tinggal yang tua-tua,” kata Maksum kepada Jawa Pos Radar Jember.
Usai menyeruput kopi, Sutris bersama Maksum dan keluarga lainnya, memilih jagongan di dapur. Walau dapur itu gulita, tanpa lampu, dan tak berdinding. Sebab, dinding berbahan kayu yang ada sebelumnya telah jebol akibat banjir. Ternyata, tempat yang gelap itu adalah lokasi yang tepat untuk memantau debit air Sungai Bedadung.
Sesekali, Sutris menyorotkan lampu senter ke arah sungai. Air sungai mulai meninggi dan membuat rumpun bambu tepat di bawah rumah terendam air. Masih tetap memakai jas hujan, Sutris mengaku datang ke rumah saudaranya tersebut untuk mengantisipasi bila banjir datang lagi. “Ke sini buat bantu dan jaga-jaga banjir datang,” jelasnya.
Sementara itu, Maksum mengaku, banjir pekan kemarin yang menyapu rumahnya adalah bencana luapan sungai yang terbesar. “Biasanya paling besar hanya sampai di bambu di bawah rumah saja,” terangnya.
Banjir yang terjadi pada malam hari bakda Isya tersebut cukup menghantui keluarganya. Putranya yang biasanya tidak takut sama sekali dengan air sungai, mulai ada rasa trauma. Bahkan, Maksum sebagai orang dewasa di rumahnya kerap kali bangun tengah malam untuk mengecek keadaan air.
Rumah Maksum menjadi rumah paling bawah dan tepat berada di depan musala serta rumah salah seorang warga yang rata dengan tanah akibat banjir. Menurut Maksum, saat banjir menerjang, justru rumahnya yang akan hanyut, bukan rumah di depannya. “Untung rumahnya tidak sampai ikut ke sungai dan masih utuh,” katanya.
Tidak hanya Maksum dan Sutris yang berjaga-jaga malam itu. Ada dua pemuda lagi dari Taruna Siaga Bencana (Tagana). Renaldi bersama rekannya itu berteduh di bawah terpal berwarna biru, tepat di samping sungai. Dia datang saat hujan, karena terdapat pemberitahuan bahwa di Arjasa debit air mulai tinggi. Karenanya, dia pun langsung ke perkampungan bawah jembatan Jalan Sumatera untuk mengantisipasi bila banjir itu datang kembali. Editor : Safitri