Radar Jember – Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Agostini tetap memantau ketat perkembangan MotoGP.
Salah satu topik utama adalah peluang Marc Marquez untuk menyamai atau melewati rekor 15 gelar juara dunia miliknya (8 gelar di kelas utama).
"Rekor memang dibuat untuk dipecahkan. Marquez adalah satu-satunya yang bisa mendekati atau memecahkannya saat ini. Dia masih sangat kuat, tapi dia tidak punya banyak waktu lagi untuk melakukannya," ujar Agostini dikutip Radar Jember dari laman Motosan.
Ia pun berseloroh sambil tertawa, "Semoga rekor itu tetap bersamaku—jika tidak, mereka setidaknya harus mengundangku ke pesta perayaannya."
Sorotan untuk Paddock: Bezzecchi dan Bagnaia
Agostini memberikan pujian khusus kepada Marco Bezzecchi yang tampil dominan di Thailand.
"Dia melakukan pekerjaan hebat, kemenangan hari Minggu kemarin menunjukkan seluruh kualitasnya," puji Agostini.
Sementara untuk Pecco Bagnaia, Agostini melihat adanya penurunan mentalitas agresif dibanding musim lalu.
Menurutnya, Pecco terlalu banyak berpikir teknis sehingga kehilangan insting 'pembunuh' di lintasan.
"Dia hanya perlu menemukan kembali gairah dan keinginan untuk menang tanpa perlu takut ada orang lain yang lebih cepat darinya," katanya.
Kritik Pedas: 'Sayap Itu untuk Pesawat, Bukan Motor!'
Sebagai pembalap era klasik, Agostini merasa MotoGP saat ini terlalu bergantung pada teknologi, terutama di bidang aerodinamika.
"Dulu semuanya tentang skill. Sekarang, mereka tinggal menekan tombol dan semuanya bekerja otomatis. Saya ingin peran pembalap kembali dominan," ungkap Agostini.
Ia juga mengkritik fitur sayap pada motor era saat ini. "Pesawat punya sayap, bukan motor. Sayap tidak seharusnya ada di motor balap," kritiknya.
Menurutnya, tenaga motor yang mencapai 300 HP saat ini justru membuat pembalap sibuk menjaga ban dan bensin daripada bertarung habis-habisan.
"Publik ingin melihat pembalap yang memberikan segalanya, bukan yang sekadar menjaga konsistensi," tegasnya.
Pasar Pembalap yang 'Terlalu Cepat'
Agostini juga mengkritik bursa transfer pembalap musim 2026 yang sudah memanas sejak awal musim.
Kepindahan Jorge Martin dan Marco Bezzecchi ke Aprilia yang sudah diketahui sejak dini dianggap merusak hubungan antara pembalap dan tim lamanya.
"Tim akan berpikir: buat apa saya bekerja keras untuk pembalap yang akan pergi? Harusnya negosiasi baru dimulai di pertengahan musim," tegasnya.
Kenangan Manis: Mekanik Sang Tukang Roti
Menutup wawancaranya, Agostini mengenang kemenangan pertamanya yang unik.
Saat itu, ia membeli motor sendiri di dealer dan mekaniknya adalah seorang tukang roti desa.
"Saat saya minta ganti busi, dia bertanya, 'Di mana letak businya?'. Dan saya memenangkan balapan itu. Itu adalah kemenangan cinta pertama yang tidak akan pernah saya lupakan," kenang Agostini.
Editor : Imron Hidayatullahh