Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Luca Marini Sebut Honda Kehilangan Arah Pengembangan Teknis karena Terlalu Bergantung pada Bakat Marc Marquez

Imron Hidayatullahh • Senin, 16 Februari 2026 | 12:00 WIB

Photo
Photo

Radar Jember - Luca Marini membuat keputusan berani saat meninggalkan tim VR46 milik kakaknya, Valentino Rossi, demi kursi pabrikan di Honda.

Setelah menyelesaikan dua musim penuh bersama tim asal Jepang tersebut, pembalap yang dikenal analitis itu membagikan refleksi mendalam mengenai progres tim dan alasannya optimistis menatap masa depan.

Warisan Marc Marquez dan Krisis Teknis Honda

Marini secara blak-blakan menyoroti penyebab merosotnya performa Honda dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Kode Keras Marc Marquez buat Ducati: Pasangkan Pecco dengan Alex Marquez, Pedro Acosta Disingkirkan?

Menurutnya, pabrikan berlogo sayap tunggal tersebut terlalu mengandalkan talenta individu Marc Marquez.

"Dulu, Honda sangat percaya pada Marc karena bakatnya bisa menutupi kekurangan motor. Namun, hal itu membuat mereka sedikit kehilangan arah dalam pengembangan sisi teknis," ujar Marini, dinukil Radar Jember dari laman Motosan.

Meski rekan setimnya, Joan Mir, sudah mulai meraih podium, Marini mengakui masih ada celah yang harus ditutup.

"Langkah maju kami sangat besar, tapi belum cukup. Saat Anda tertinggal 0,3 detik dari pembalap tercepat, menutup jarak tersebut adalah bagian tersulit," kata Marini.

Baca Juga: Ambisi Kebangkitan: Bagnaia Dijagokan Kembali Rebut Status Penantang Gelar MotoGP 2026

Pembalap Berjiwa Insinyur

Di paddock, Marini dikenal sebagai pembalap yang sangat teknis. Ia tidak sekadar memacu motor, tetapi juga mendalami data layaknya seorang insinyur lapangan.

Karakter ini dianggapnya sebagai kekuatan utama untuk membantu kebangkitan Honda.

"Saya suka memahami cara kerja motor. Saya selalu penasaran membaca data dan bertanya pada teknisi," tuturnya.

Keseriusannya bahkan melampaui lintasan; Marini kini tengah belajar bahasa Jepang untuk mempermudah komunikasi dengan para insinyur pusat.

Ia menyadari bahwa kendala bahasa sering kali menghambat penyampaian umpan balik teknis yang krusial.

Membungkam Kritik: Tatap Peluang Emas 2026

Tahun pertama Marini di Honda tidaklah mulus, ia kerap menghuni barisan belakang grid.

Namun, progres nyata mulai terlihat di musim 2025 ketika ia mampu menembus posisi kualifikasi ke-13 secara konsisten.

Bagi Marini, tahun 2026 akan menjadi pembuktian final atas keputusannya meninggalkan Ducati.

"Mungkin ada orang yang tidak memahami kepindahan saya di awal. Sekarang, hasil mulai menunjukkan sebaliknya. Tahun 2026 akan menjadi kesempatan terbaik dalam hidup saya untuk memenangkan balapan," tegas pembalap berusia 28 tahun tersebut.

Baca Juga: Kabar Buruk dari MotoGP: Fermin Aldeguer Absen di Seri Pembuka 2026 Akibat Patah Tulang Femur, Gresini Umumkan Penggantinya!

Tetap Dekat dengan Akademi VR46

Meski kini berstatus pembalap pabrikan dengan jadwal yang padat, hubungan Marini dengan anggota VR46 Academy lainnya, seperti Pecco Bagnaia dan Marco Bezzecchi, tetap solid.

Walaupun sulit menemukan waktu luang karena kesibukan masing-masing sebagai pembalap utama, ia menegaskan tidak ada yang berubah dalam persahabatan mereka.

"Saya ingin tetap berada di Honda untuk dua atau tiga tahun ke depan. Saya menyukai pekerjaan ini, timnya, dan segalanya. Target saya hanya satu: menang bersama mereka," pungkas Marini.

Editor : Imron Hidayatullahh
#HONDA #Valentio Rossi #paddock #VR46 #luca marini #Bezzecchi #Bagnaia #marc marquez #MotoGP