Radar Jember - Santi Hernandez, sosok yang selama satu dekade menjadi kepala kru Marc Marquez di Honda, akhirnya buka suara soal masa paling kelam dalam karier sang juara dunia delapan kali.
Dalam dokumenter DAZN berjudul Volver, Santi menceritakan bagaimana ia menyaksikan Marquez terjebak dalam frustrasi yang semakin menumpuk dari tahun ke tahun.
“Tak ada gunanya terus memaksa, Marc harus berhenti dan mencari jalan lain,” kata Santi.
Menurut Santi, menyaksikan Marquez menderita setiap akhir pekan balapan adalah hal yang sangat berat.
Ia harus memisahkan profesionalitas dengan sisi personal sebagai teman.
“Tidak mudah melihat dia menderita setelah balapan,” kata Santi.
“Tapi di momen itu kamu harus jadi dingin. Kamu harus menjadi temannya, bukan teknisinya. Kamu harus bilang ‘cukup’. Tidak ada gunanya lagi mengambil risiko setiap Minggu hanya demi posisi ketujuh atau entah apa,” ungkapnya.
“Kamu bukan masalahnya, tempat ini yang menghancurkanmu,” ungkapnya.
Pada akhirnya, Santi memilih memberikan kejujuran yang mungkin menyakitkan, tapi diperlukan.
“Saya bilang padanya: ‘bukan kamu yang sudah habis. Kamu harus pergi. Kami tidak lagi bisa memberimu senjata untuk menemukan kembali kebahagiaanmu. Kamu datang tiap akhir pekan bukan untuk bersenang-senang lagi. Kamu bukan pahit, tapi frustrasi. Kamu bahkan lebih ingin pulang untuk memutus pikiran, ketimbang berada di sirkuit yang dulu kamu cintai. Kita tidak punya amunisi. Maaf’,” ujar Santi.
Keputusan Berpisah yang Menjadi Titik Balik
Marquez akhirnya mengambil keputusan besar: meninggalkan Honda setelah 11 tahun untuk bergabung dengan Gresini Ducati.
Keputusan itu berisiko tinggi, tapi Santi menegaskan bahwa yang terpenting adalah Marquez memahami bahwa dirinya bukanlah sumber masalah.
“Apakah itu taruhan berisiko? Ya. Tidak menjamin dia akan menang lagi. Tapi setidaknya dia bisa melihat bahwa dirinya bukan penyebab kehancuran itu,” jelas Santi.
Meski keputusan itu berarti mereka berpisah secara profesional, Santi tetap memberi saran yang jujur.
“Kalau saya egois, mungkin saya berkata lain. Tapi ketika seorang teman bertanya pendapatmu, kamu harus menyingkirkan kepentingan pribadi. Kalau tidak, kamu bukan teman,” ungkapnya.
Momen Pertama di Ducati: Senyuman yang Menghapus Segalanya
Santi masih mengingat jelas momen pertama Marquez melepas helm selepas testing Valencia 2023 bersama Gresini.
“Senyuman itu mengatakan semuanya. Siapa pun yang mengenalnya langsung tahu: ‘sudah, ini dia’. Itu seperti beban berat terangkat. Hasil selanjutnya tak penting. Entah menang atau buruk, kamu tahu Marc akhirnya menemukan apa yang ia cari,” ujarnya.
Editor : Imron Hidayatullahh