Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Alex Barros: Marc Marquez Itu Fenomena MotoGP! Selevel Pele dan Messi, Sulit Sekali Dikalahkan

Imron Hidayatullahh • Selasa, 25 November 2025 | 22:59 WIB
Marc Marquez menjelang MotoGP Mandalika, Lombok, Indoneisa.
Marc Marquez menjelang MotoGP Mandalika, Lombok, Indoneisa.

Radar Jember - Kebangkitan Brasil di dunia balap kembali mencuat setelah Diogo Moreira menjuarai Moto2.

Salah satu tokoh penting di balik munculnya talenta muda itu adalah legenda MotoGP, Alex Barros, yang dianggap sebagai sosok yang “menemukan” Moreira dan membimbingnya dari dekat.

Dalam lanjutan wawancara eksklusifnya, Barros tak hanya membahas masa depan MotoGP bersama Diogo Moreira dan Toprak Razgatlioglu, tetapi juga mengenang perjalanan panjang karirnya.

 Baca Juga: Pernat Ungkap Kemungkinan Mengejutkan: Marc Marquez Bisa Tinggalkan Ducati dan Balik ke Honda pada 2027?

21 Tahun di Kejuaraan Dunia: Perjuangan sejak Kecil

Barros membuka cerita dengan mengingat masa-masa sulitnya menembus level tertinggi balap motor.

“Total 21 tahun saya berkompetisi di kejuaraan dunia,” ujarnya.

Menurutnya, era dulu jauh lebih keras karena mayoritas balapan digelar di Eropa.

Pembalap dari Amerika Selatan seperti dirinya harus pindah ke benua lain sejak usia belia.

“Di zaman saya, 80–90 persen balapan ada di Eropa. Untuk berkembang, kamu harus tinggal di sini. Di Spanyol ada semua fasilitas terbaik: flat track, karting, sekolah balap. Tapi datang ke sini umur 12 tahun itu berat. Itu pengorbanan yang harus dilakukan kalau ingin berhasil,” ucapnya.

Barros menegaskan bahwa peran keluarga sangat menentukan.

“Anak 12 tahun tidak bisa memutuskan sendiri. Orang tua yang harus siap, harus paham betul beratnya perjalanan ini,” jelasnya, dinukil Radar Jember dari laman Motosan.

Ia menceritakan bagaimana ayahnya menjadi penopang utama karirnya.

“Saya bangun jam 4 pagi untuk latihan sebelum sekolah. Di Brasil sampai hari ini masih kekurangan sirkuit. Itu masalah besar bagi perkembangan pembalap,” katanya.

Diogo Lebih Berpeluang Sukses daripada Toprak di Tahun Pertama MotoGP

Masuk ke bahasan utama, Barros sangat yakin Diogo Moreira akan langsung kompetitif pada musim debutnya di MotoGP.

“Saya mengenal esensi dirinya. Ia tetap punya kelaparan yang sama tentang motor. Disiplin, fokus, tidak mudah terdistraksi. Itu faktor penting,” tuturnya.

Barros juga percaya Honda—tempat Moreira akan bernaung—sedang menuju kebangkitan teknis.

“Honda akan kembali kompetitif dalam waktu dekat. Jika motornya mendukung, saya rasa Diogo bahkan bisa mengejutkan sejak tahun pertama,” ujarnya.

Ia kemudian membandingkannya dengan Toprak Razgatlioglu yang juga akan hadir di MotoGP.

“Saya rasa Diogo akan tampil lebih baik daripada Toprak di musim debutnya. Toprak luar biasa, saya sangat kagum dengan karismanya dan gaya balapnya yang agresif. Tapi ia datang dari Superbike, motor yang sangat berbeda dari MotoGP. Dari MotoGP ke Superbike lebih mudah, bukan sebaliknya,” jelas Barros.

Menurutnya, Honda saat ini juga lebih kompetitif dibanding Yamaha, faktor yang membuat peluang Moreira semakin besar.

Marc Marquez: Fenomena Selevel Pele atau Messi

Ketika ditanya bagaimana seorang pembalap bisa mengalahkan Marc Marquez, Barros hanya bisa tersenyum.

“Saya tidak pernah satu generasi dengannya, tapi sangat sulit. Alex Marquez mungkin satu-satunya yang tahu rahasianya. Kalau Marc punya titik lemah, Alex yang tahu, tapi tidak akan pernah mengatakannya,” ucapnya.

Ia menilai Marc Marquez sebagai salah satu talenta paling lengkap dalam sejarah olahraga.

“Marc adalah pembalap sempurna. Kombinasi langka antara bakat alami dan dedikasi luar biasa. Setiap 10 tahun lahir satu fenomena seperti Pele atau Messi. Marc termasuk kategori itu,” ungkapnya.

Eddie Lawson & Kevin Schwantz: Mentor dan Rival yang Menginspirasi

Di akhir sesi, Barros diminta menyebut dua rekan setim yang paling berkesan dalam hidupnya.

Tanpa ragu ia menyebut Eddie Lawson.

“Secara teknis dia sangat luar biasa. Gaya balapnya halus, terlihat pelan tapi selalu catat rekor. Saya banyak belajar darinya,” ungkap Barros.

Nama kedua adalah Kevin Schwantz, yang ia sebut lebih agresif dan sangat kompetitif, tetapi tetap memberikan banyak pelajaran dalam hidupnya sebagai pembalap profesional.

Editor : Imron Hidayatullahh
#Diogo Moreira #carlo pernat #Toprak Razgatlioglu #marc marquez #MotoGP