Radar Jember - Francesco Bagnaia menutup musim 2025 dengan cara yang jauh dari harapannya.
Balapan di Valencia—yang ia harapkan menjadi bekal positif sebelum memasuki jeda musim dingin—hanya berlangsung 25 detik sebelum ia tersungkur akibat insiden dengan Johann Zarco.
Meski begitu, Bagnaia mencoba meredakan suasana.
Ia bahkan sempat meledek Nicolo Bulega.
“Kamu dapat 2 poin di GP ini? Jauh lebih banyak dari aku,” selorohnya kepada Bulega dinukil Radar Jember dari laman GPOne.
Kini, fokusnya langsung bergeser ke tes pramusim di Valencia pada Selasa (18/11/2025), yang menandai dimulainya proyek MotoGP 2026.
Musim yang Kacau. Sulit Memberikan Penilaian yang Tidak Buruk!
Bagnaia mengakui balapannya sesuai dengan akhir musimnya: banyak masalah dan sedikit kendali.
“Ini trek yang sulit, terutama di lap pertama. Zarco mencoba menyalip, tapi terlalu optimistis. Penalti sudah diberikan dan itu keputusan yang tepat,” ujar rider yang akrab disapa Pecco itu.
Ia menceritakan momen jatuh yang sempat membuatnya ngeri.
“Kaki saya sempat masuk di bawah roda dan velg menggesek boot. Hampir saja lebih parah. Tapi di tengah semua kesialan itu, saya masih beruntung,” ungkapnya.
Pecco sempat merasa lebih baik dari sesi sebelumnya dan sudah menyalip beberapa pembalap hingga naik ke posisi 10 sebelum kecelakaan terjadi.
Namun, aturan baru memaksanya mendorong motor keluar area run-off sebelum bisa menyalakannya kembali.
Musim Terberat: “Saya Mulai dengan Target Juara, Berakhir di Peringkat 5.”
Ketika melihat ke belakang, Bagnaia tidak menutupi rasa frustrasinya.
“Ini salah satu musim terburuk dalam karier saya. Sangat berat, terutama di bagian akhir. Saya mulai dengan keyakinan bisa juara, tapi finis kelima hanya karena paruh pertama musim sedikit lebih baik,” katanya.
Sejak MotoGP Brno, katanya, performa Ducati sulit diprediksi dan penuh kendala.
“Negatif tidak pernah membantu. Kalau pikiran negatif, energi negatif ikut datang. Saya, tim, semua orang sudah sangat lelah,” ujarnya.
Mengulang Kisah 2020?
Bagnaia berharap jeda musim dingin bisa memberi efek seperti tahun 2020, ketika ia bangkit setelah cedera parah.
“Saat itu saya bisa reset dan kembali sebagai pembalap yang lebih baik. Semoga begitu juga sekarang,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa liburan tidak akan benar-benar memutus pikirannya dari balapan.
“Saya mengenal diri saya. Saya tidak akan bisa mematikan otak. Saya pasti akan banyak berpikir,” ungkap Bagnaia.
Soal Masa Depan: Ambisi Tetap Menyelesaikan Karier Bersama Ducati
Ketika ditanya tentang kontraknya setelah 2026, Bagnaia menjawab dengan yakin.
“Saya ingin bertahan di Ducati. Itu ambisi saya. Saya mulai bersama mereka, kami punya dua gelar bersama, dan kami mengembangkan motor ini dari awal. Saya ingin mengakhiri karier di sini,” jawab Bagnaia.
Ia mengatakan, negosiasi kemungkinan bisa dimulai “musim dingin ini”, meski ia sendiri tidak tahu kapan pembicaraan resmi akan digelar.
Baca Juga: Tak Peduli Rossi, Marc Marquez Tegaskan: Kami Tak Saling Membutuhkan, tapi MotoGP Butuh Kami Berdua!
Tes Valencia Sangat Penting: Masih Punya Mimpi Motor Bisa Cocok Dengan Gaya Balapnya
Bagnaia berharap tes Selasa besok bisa membawa terobosan kecil untuk fondasi musim depan.
“Saya seorang pemimpi. Saya pikir itu mungkin,” ujarnya.
Namun, ia tidak berharap perubahan besar pada motor 2026, karena basisnya masih sangat mirip dengan versi 2024—motor yang selama ini sulit ia jinakkan.
“Untuk alasan tertentu, saya tidak pernah benar-benar cocok dengan motor ini,” pungkas Bagnaia.
Editor : Imron Hidayatullahh