Radar Jember - Sudah satu dekade berlalu sejak Jorge Lorenzo merebut gelar juara dunia MotoGP 2015—gelar kelimanya di seluruh kategori dan yang ketiga di kelas utama.
Momen bersejarah itu kembali dikenang akhir pekan ini di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, lewat pameran Yamaha YZR-M1 yang membawanya menjadi juara dunia terakhir kali.
Dalam siaran langsung MotoGP di YouTube, Lorenzo tak bisa menyembunyikan rasa harunya ketika kembali melihat motor yang mengubah kariernya.
“Masih indah, halus, elegan. Warnanya luar biasa. Banyak kenangan kembali—tahun itu, akhir pekan itu, sulit dipercaya sudah 10 tahun berlalu,” ujar Lorenzo, dinukil Radar Jember dari laman Motosan.
Baca Juga: Bezzecchi Sesalkan Absennya Marc Marquez di MotoGP Valencia: Kehadirannya Selalu Naikkan Level!
“Rasanya Seperti Baru Dua atau Tiga Tahun Lalu”
Performa Lorenzo di musim 2015 memang termasuk salah satu yang paling konsisten dalam kariernya.
Ia tampil luar biasa melawan tiga legenda MotoGP sekaligus: Valentino Rossi, Marc Marquez, dan Dani Pedrosa.
Valencia menjadi saksi akhir dari duel dramatis yang dikenang penggemar hingga hari ini.
Namun, nostalgia itu tak menghapus fakta bahwa musim tersebut merupakan salah satu yang paling penuh kontroversi. Terutama setelah insiden Rossi vs Marquez di Sepang yang mengguncang dunia MotoGP.
Baca Juga: Tak Peduli Rossi, Marc Marquez Tegaskan: Kami Tak Saling Membutuhkan, tapi MotoGP Butuh Kami Berdua!
Polemik Sepang yang Mengubah Segalanya
Kasus Sepang 2015 menjadi penanda salah satu drama terbesar dalam sejarah MotoGP.
Rossi menuduh Marc Marquez mencoba mengganggunya dalam perebutan gelar.
Kemudian terjadi kontak di lintasan yang membuat Marquez jatuh.
Rossi pun dijatuhi hukuman start dari posisi terakhir pada balapan penentuan di Valencia.
Lorenzo mengenang momen menegangkan itu.
“Saya sangat fokus, sangat kuat secara fisik. Saya tahu saya bisa melakukannya. Saya pastikan semuanya sempurna—tim, motor, persiapan. Saya harus menjalani kualifikasi terbaik dalam hidup saya, dan saya melakukannya. Lalu saya harus sempurna di balapan… dan ya, saya tidak boleh salah,” katanya.
Baca Juga: MotoGP Portugal 2025: Akhir Pekan Pahit bagi Bagnaia, Pelajaran Berharga untuk Bulega
Balapan Sempurna, Tekanan Maksimal
Lorenzo start dari pole dan mempertahankan posisi pertama sejak lampu padam hingga garis finis.
Marquez dan Pedrosa membayangi sepanjang balapan, sementara Rossi melakukan remontada luar biasa dari posisi paling belakang hingga finis keempat.
Namun, hasil itu tak cukup menyalip Lorenzo di klasemen.
Pembalap asal Mallorca itu menjadi juara dunia dengan jarak lima poin saja.
“Kemenangan itu adalah sebuah pembebasan,” kata Lorenzo.
“Pesta setelah Valencia benar-benar luar biasa. Saya belajar bahwa kita harus menikmati momen karena belum tentu terulang lagi,” ungkapnya.
Ia bahkan mengakui lima tahun terakhir kariernya di MotoGP penuh dengan selebrasi.
“Setiap ada hasil bagus, malamnya pasti pesta. Latihan saya serius, tapi kalau menang, ya, harus dinikmati.” ujarnya.
10 Tahun Berselang: Lorenzo Kagum pada Dominasi Marquez
Momen nostalgia itu juga membuat Lorenzo merefleksikan kondisi MotoGP masa kini.
Ia angkat topi atas gelar dunia kesembilan Marc Marquez musim ini—pencapaian luar biasa setelah kepindahannya ke Ducati.
“Marc kembali dengan motor terbaik, motor merah, dan dia sangat kuat. Usianya baru 32 tahun. Para pembalap muda memang mendorong keras—Acosta tampil luar biasa di lima balapan terakhir—Aprilia juga kuat bahkan saat Marc absen,” ungkapnya.
Namun bagi Lorenzo, satu hal tetap tak berubah.
“Marc masih pembalap paling komplet. Dia tetap favorit untuk 2026,” pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh