Radar Jember - Aksi gemilang Marco Bezzecchi di Portimao membuatnya semakin kokoh di posisi ketiga klasemen MotoGP 2025.
Pembalap Aprilia itu tampil dominan sejak sesi Sprint Race hingga balapan utama.
Menorehkan kemenangan ketiganya musim ini dan menegaskan bahwa dirinya kini termasuk deretan penantang utama para bintang besar.
Ajang di Portugal itu juga menjadi momen penting bagi Aprilia, yang kini mencatat tiga kemenangan dalam satu musim—bukti nyata perkembangan pesat tim dan pembalapnya.
Baca Juga: Kasihan Pecco! Marc Marrquez Akui Iba Melihat Bagnaia Terpuruk Sepanjang MotoGP 2025
“Saat Kucing Pergi, Tikus Menari”
Pengamat senior MotoGP, Carletto Pernat, menilai kemenangan Bezzecchi di Portimao sebagai bukti lompatan besar dalam kualitas sang pembalap.
“Ketika kucing tidak ada, tikus menari,” ujar Pernat, merujuk pada absennya Marc Marquez akibat cedera.
“Bezzecchi memanfaatkan situasi itu dengan luar biasa. Ia start di depan, menghajar semua lawan dengan ritme gila. Saya pikir dia sudah naik level—sekarang dia adalah salah satu pembalap top yang akan bersaing memperebutkan gelar musim depan,” katanya.
Menurut Pernat, Bezzecchi kini menjelma menjadi “salah satu anti-Marquez” di lintasan.
“Dia bukan fenomena alami seperti Pedro Acosta, Quartararo, atau Marquez sendiri, tapi dia itu tipe ‘pembalap jahat’—dalam arti sportif—yang tidak memberi kesempatan sedikit pun pada lawan. Dan bersama Aprilia, kombinasi mereka benar-benar berbahaya,” katanya.
Quartararo dan Acosta Masih Butuh Motor Kompetitif
Namun, tidak semua pembalap bernasib baik.
Pecco Bagnaia kembali kesulitan, sementara Nicolo Bulega tampil hati-hati dalam debutnya, memperlihatkan potensi untuk menutup musim dengan baik di Valencia.
Pernat kemudian menyoroti situasi beberapa tim besar.
“Saya menempatkan Bezzecchi di antara empat besar musim depan, asalkan Yamaha dan KTM bisa menghadirkan motor kompetitif. Dengan motor mereka saat ini, Quartararo dan Acosta memang bisa melakukan keajaiban, tapi belum cukup untuk jadi juara dunia,” jelasnya.
Menurutnya, Pedro Acosta adalah fenomena sejati.
“Dia mengendarai motor 120 persen. Motornya punya banyak masalah—dari ban, metode, sampai setup—tapi dia selalu ada di depan. Podium demi podium, performanya luar biasa,” ungkapnya.
Pernat juga menilai Yamaha sedang dalam masa tersulit.
“Mereka bahkan lebih buruk dari Honda saat ini. Yamaha punya pembalap bagus, tapi mesinnya tidak. Mereka sedang beralih ke mesin V4, tapi tahun depan mungkin masih jadi musim transisi,” tegasnya.
Honda Masih Kehilangan Sentuhan Kelas Atas
Meski begitu, Pernat menilai Honda sedikit lebih baik dari Yamaha karena memiliki beberapa pembalap potensial seperti Luca Marini, Joan Mir, dan Johann Zarco.
“Honda masih punya struktur yang bekerja, tapi kehilangan sentuhan kelas atas yang dimiliki Ducati, KTM, dan Aprilia,” tambahnya.
Bezzecchi dan Aprilia, Duet Berbahaya
Pernat menutup analisisnya dengan pujian untuk Bezzecchi dan tim Aprilia.
“Ducati memang masih tim yang harus dikalahkan, tapi hati-hati dengan Bezzecchi dan Aprilia. Mereka kombinasi yang berbahaya,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa Aprilia pantas diapresiasi meski harus menjalani musim berat tanpa Jorge Martin, yang gagal tampil penuh akibat cedera.
“Bezzecchi berkembang sendiri—mentalnya kuat, kedewasaannya meningkat. Dia mengingatkan saya pada Wayne Gardner. Cara dia balapan mirip seperti itu. Saya yakin Bezzecchi akan memainkan peran penting di musim depan,” tutup Pernat.
Editor : Imron Hidayatullahh