Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Rem sampai Lihat Tuhan! Legenda MotoGP Kevin Schwantz Kenang Masa Gila di MotoGP dan Sosok Marc Marquez

Imron Hidayatullahh • Rabu, 12 November 2025 | 21:47 WIB
Kevin Schwantz (jaket biru), juara dunia 500cc tahun 1993.
Kevin Schwantz (jaket biru), juara dunia 500cc tahun 1993.

Radar Jember - Legenda MotoGP asal Texas, Kevin Schwantz, kembali mengenang perjalanan kariernya di ajang EICMA Milan.

Juara dunia 500cc tahun 1993 itu bercerita tentang loyalitasnya pada Suzuki, duel panasnya dengan Wayne Rainey, kekagumannya kepada Marc Marquez, serta gairah terhadap kecepatan yang tak pernah padam.

“Balapan adalah segalanya buat saya,” ucap Schwantz, membuka kisahnya dengan nada tegas namun penuh nostalgia.

“Sampai sekarang, saya masih merasakan getaran itu setiap kali memutar gas motor,” ungkapnya, dikutip Radar Jember dari laman GPOne.

Baca Juga: Fabio Quartararo Bakal Ikuti Jejak Marc Marquez Lepas Uang Besar demi Motor Kompetitif di MotoGP? Ini Kata El Diablo

Setia pada Suzuki meski sempat digoda Yamaha dan Honda

Sepanjang kariernya, Schwantz dikenal tak pernah meninggalkan Suzuki, meski sempat mendapat tawaran dari tim besar lain.

“Pada akhir 1989 saya hampir pindah ke Yamaha bersama Agostini, tapi entah kenapa batal. Tahun 1992 saya juga sempat berbicara dengan Honda dan Erv Kanemoto, tapi akhirnya tetap bertahan. Sekarang saya bersyukur tidak jadi pindah. Suzuki sudah seperti keluarga buat saya,” ujarnya.

Menurutnya, Suzuki bukan sekadar tim, melainkan keluarga yang tumbuh bersama.

“Hubungan kami lebih dekat dibandingkan sebagian besar pabrikan lain,” katanya.

Motor Tercepat Itu Membosankan

Ketika banyak pembalap modern seperti Pedro Acosta atau Fabio Quartararo mengeluh soal motor mereka, Schwantz justru menikmati tantangan mengendarai mesin yang tak selalu superior.

“Balapan dengan motor tercepat itu membosankan. Saya suka harus berpikir, mencari celah menyalip. Suzuki saya tidak selalu yang paling cepat, tapi kompetitif. Yang penting adalah kecerdasan dan keberanian, bukan top speed,” katanya.

Duel Abadi dengan Rainey: Rem sampai Lihat Tuhan!

Salah satu momen paling legendaris dalam kariernya terjadi di Hockenheim, saat ia menyalip Wayne Rainey dengan manuver berani.

“Saya tahu strateginya. Jadi saya ubah jalur, manfaatkan slipstream, dan menyalip saat pengereman. Saat itu saya selalu bilang: Rem sampai lihat Tuhan!” ujar Schwantz sambil tertawa.

Tentang Marc Marquez: “Saya Melihat Diri Saya di Dalam Dirinya”

Schwantz mengaku sangat memahami keputusan Marc Marquez meninggalkan Honda dan bergabung dengan tim satelit Ducati pada 2024.

“Sulit meninggalkan tim tempat kamu memulai karier. Saya tak pernah melakukannya, tapi saya paham alasannya. Setelah cedera berat, dia bisa saja pensiun. Tapi dia terus berjuang—itu menunjukkan mental pejuangnya,” ujar Schwantz.

Menurutnya, Marquez memiliki jiwa yang sama seperti dirinya.

“Kami sama-sama hidup di batas kemampuan. Kadang berhasil, kadang jatuh, tapi itulah kami,” ujarnya.

Menang Itu Indah, tapi Kebahagiaan Tim Lebih Penting

Bagi Schwantz, esensi balapan bukan sekadar kemenangan pribadi, melainkan euforia kolektif di paddock.

“Menang itu luar biasa, tapi momen terbaik adalah melihat kebahagiaan tim di pit setelah balapan. Semua risiko terbayar saat melihat senyum mereka,” ujarnya.

Rindu Kecepatan dan Suzuki di Lintasan

Meski sudah lama pensiun, Schwantz mengaku masih sering ke sirkuit untuk acara resmi Suzuki.

“Saya masih suka merasakan sensasi itu, tapi hanya dalam lingkungan yang aman. Saya tak ingin ada yang menyalip saya cuma demi bisa bilang: saya kalahkan Schwantz!,” ujarnya.

Ia juga berharap suatu hari Suzuki kembali ke MotoGP. “Saya tak perlu balapan lagi, cukup bisa mencoba motornya sekali saja dan bilang: saya juga pernah mencobanya,” katanya.

Air Mata si Mugello

Schwantz mengakhiri kariernya di Mugello dengan air mata.

“Itu keputusan yang benar, tapi tetap menyakitkan. Balapan adalah hidup saya. Mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu yang begitu kamu cintai, itu sulit,” kenangnya.

Editor : Imron Hidayatullahh
#juara dunia #GP 500 #Kevin Schwantz #wayne rainey #marc marquez #MotoGP