Radar Jember - Tahun 2025 menandai enam tahun sejak Jorge Lorenzo memutuskan gantung helm setelah meraih lima gelar juara dunia, termasuk tiga titel di kelas MotoGP.
Mantan pembalap Yamaha, Ducati, dan Honda ini pernah berada di era yang sering disebut sebagai masa keemasan MotoGP, bersama Valentino Rossi, Dani Pedrosa, Casey Stoner, dan Marc Marquez.
Dalam wawancara bersama Diario AS, Lorenzo secara khusus membahas perjalanan karier Marc Marquez, bagaimana rasanya menjadi rivalnya, sekaligus pengalaman ketika berbagi garasi dengannya.
Satu-satunya yang Pernah Mengalahkan Fantastic Four, Termasuk Marquez
Lorenzo menegaskan bahwa mengalahkan Marc Marquez bukanlah hal yang sederhana, terlebih saat berada di era para legenda.
“Saya satu-satunya yang bisa mengalahkan Fantastic Four dalam satu musim. Saya, Stoner, Valentino, Pedrosa, dan Marquez—kami lima yang mendominasi. Ada beberapa tahun di mana saya bisa mengalahkan semuanya. Itu sesuatu yang membuat saya bangga,” kata Lorenzo.
Menurut Lorenzo, gelar pertama selalu menjadi yang paling menekan karena rasa takut gagal.
Tapi, setelah itu mental bisa jauh lebih stabil untuk meraih gelar berikutnya.
Lorenzo: “Saat Ini Tidak Ada Pembalap yang Setara dengan Marc”
Lorenzo menilai bahwa dominasi Marc tidak hanya disebabkan motor, melainkan kemampuan adaptasi dan pengelolaan risiko yang tidak dimiliki pembalap lain.
“Bagnaia punya motor yang sama, Di Giannantonio juga, dan beberapa pembalap lain memakai versi yang hanya sedikit berbeda. Tapi tidak ada yang bisa mendekati performa Marc. Ia bukan hanya satu langkah di depan—bagi saya, dua langkah,” ungkapnya.
Ia menyebut hanya sedikit pembalap dalam sejarah yang bisa menjadi juara berulang kali, dan Marquez berada dalam kelompok paling kecil itu.
Rival yang Melelahkan dan Rekan Satu Tim yang Menyiksa
Lorenzo tahu betul betapa beratnya menghadapi Marc sejak hari pertama pembalap Spanyol itu naik kelas utama pada 2013.
“Sejak awal dia sangat cepat. Saya dan Dani mungkin sedikit lebih berpengalaman saat itu, tapi kami banyak cedera. Marc lebih konsisten dan langsung juara di musim debutnya—itu hanya bisa dilakukan para fenomena,” ujarnya.
Ketika mereka menjadi rekan setim di Honda pada 2019, Lorenzo merasakan tekanan mental yang jauh lebih besar dibanding apa pun yang pernah ia alami.
“Yang paling menghancurkan bukan komentar atau omongan. Tapi ketika kamu membuka data dan melihat rekan setimmu unggul setengah detik atau satu detik setiap sesi. Itu yang membuatmu kehilangan kepercayaan diri,” tuturnya, dikutip dari laman Motosan.
Lorenzo menyamakan situasi itu dengan kondisi Pecco Bagnaia saat ini.
“Bagnaia tidak menyangka Marc akan selalu lebih cepat. Itu membuat mentalnya goyah. Saat kamu ragu pada diri sendiri, itu terlihat dalam cara kamu berkendara,” kata Lorenzo.
Jika Marc Juara dengan Ducati, Debat Soal GOAT Akan Berakhir
Lorenzo menilai bahwa Marc Marquez sudah layak masuk Top 3 pembalap terbaik sepanjang sejarah, dan mungkin menjadi yang terbaik.
Namun, ia memberikan satu syarat untuk menghilangkan semua perdebatan.
“Jika dia juara lagi dengan Ducati, itu sudah luar biasa. Tapi kalau dia bisa juara dengan tiga merek berbeda, maka siapa pun yang meragukannya tidak akan punya argumen lagi. Itu akan mengakhiri semua perdebatan tentang siapa yang terbaik,” pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh