Radar Jember - Jorge Lorenzo kembali membahas dinamika persaingan di MotoGP melalui kanal youtube DuraLaVita.
Termasuk pentingnya rasa menyatu (feeling) antara pembalap, motor, dan tim untuk meraih hasil maksimal.
Lorenzo membuka dengan menyoroti karakteristik sirkuit-sirkuit saat ini yang menuntut akurasi tinggi dalam mengambil garis balap, serta perbedaan grip yang signifikan antara pagi dan siang hari.
“Saya ingat saat tes pukul 9 pagi. Semua keluar lebih awal, karena setelah itu mustahil memperbaiki waktu. Bisa beda satu detik sampai satu setengah detik hanya karena grip di pagi hari,” katanya.
Menurut Lorenzo, perubahan suhu dan kondisi lintasan membuat pembalap merasakan motor yang berbeda pada tiap sesi.
“Pagi harinya motor terasa dengan cara tertentu, lalu pukul 2 siang motor terasa sama sekali lain. Dan itu mengerikan, hanya karena perubahan grip,” ungkapnya.
Lorenzo juga membandingkan beberapa sirkuit. Motegi, menurutnya, tetap menjadi trek dengan stretch paling ekstrem.
Sementara, Sepang punya grip rendah dan permukaan yang tidak rata—meski Pecco Bagnaia justru tampil kuat di sana sejak debutnya.
Kunci Sukses: Harmoni Antara Pembalap, Motor, dan Tim
Bagi Lorenzo, performa seorang pembalap tidak hanya soal kecepatan.
“Kalau pembalap tidak punya feeling yang bagus dengan motor atau timnya, hasilnya buruk. Sangat sulit menjadi cepat, suka dengan motor, dan pada saat yang sama punya hubungan baik dengan tim. Hanya sedikit yang berhasil,” katanya.
Ia kemudian menyoroti Pedro Acosta sebagai bakat besar yang akan semakin berbahaya setelah meraih kemenangan pertama.
Sementara untuk Alex Marquez, Lorenzo menilai motor masih menjadi faktor pembatas utama performanya, bukan mentalitas.
Tentang Marc Marquez, Lorenzo menegaskan bahwa kemampuan adaptasi Marc dalam kondisi ekstrem masih menjadi pembeda terbesar di grid saat ini.
Kombinasi Saudara 1–2 Itu Sangat Langka
Lorenzo lalu membagikan sebuah fakta menarik mengenai hubungan saudara dalam dunia olahraga.
“Saya mencari di ChatGPT apakah ada kasus saudara finis pertama dan kedua di olahraga lain. Ternyata pernah terjadi di tenis, Serena dan Venus Williams pada 2002, dan juga baru-baru ini di Supercross Amerika. Sangat sedikit yang berhasil,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan kakak atau adik bisa menjadi pendorong perkembangan, selama dampaknya bersifat positif.
Ia menutup dengan menyinggung pentingnya warm-up sebagai sesi pencarian feeling terakhir sebelum lomba.
“Di warm-up biasanya mereka tidak ngebut, tapi ada dua lap penting sebelum balapan untuk menemukan feeling yang tepat,” pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh