Radar Jember - Aleix Espargaro termasuk salah satu pembalap yang perjalanan kariernya penuh naik-turun di dunia MotoGP.
Meski kini pensiun sebagai pembalap penuh waktu, ia masih terlibat di paddock sebagai pembalap penguji Honda.
Dalam sebuah wawancara, Aleix menceritakan perjalanan panjangnya—dari hampir menyerah hingga akhirnya menikmati musim terbaiknya bersama Aprilia.
Aleix mengakui bahwa awal kariernya berjalan sulit.
“Kalau sepuluh tahun lalu, mungkin saya akan bilang keadaan itu bukan salah saya. Saya naik kelas terlalu cepat dari 125cc ke 250cc tanpa manajemen yang tepat. Tapi sebenarnya, saya juga terlalu terburu-buru. Saya tidak sabar,” ungkapnya.
Ia mengatakan bahwa versi dirinya ketika masih muda dan dirinya yang sekarang adalah dua orang yang sangat berbeda.
“Dulu saya bukan Aleix yang pekerja keras dan gigih seperti sekarang. Hidup mengajarkan saya lewat banyak pukulan. Hampir saja saya gagal mencapai MotoGP,” ungkapnya, dikutip dari Motosan.
“Kami Beruntung Punya Orang Tua yang Tidak Ikut Campur Berlebihan”
Aleix juga mengenang bagaimana ia dan sang adik, Pol Espargaro, tumbuh dalam keluarga sederhana—tetapi dengan pola dukungan yang tepat.
“Kami tidak punya uang. Orang tua saya berjuang keras supaya kami bisa balapan. Tapi ketika kami sudah sampai tahap serius, mereka mundur dan kembali jadi orang tua, bukan manajer,” katanya.
Ia mengaku sering melihat pembalap berbakat gagal gara-gara orang tua terlalu ikut campur.
“Saya telah melihat banyak talenta besar tidak berkembang karena orang tua mereka terlalu intrusif, merasa anaknya adalah Marquez atau Rossi berikutnya. Itu merusak mereka,” sindirnya.
“Dua Tahun Balapan Tanpa Dibayar”
Perjalanan Aleix menuju level yang ia inginkan tidak datang tanpa pengorbanan besar.
“Untuk bisa keluar dari kontrak dengan Aspar, saya membayarkan semua uang yang saya punya. Saya bahkan dua tahun balapan tanpa menerima satu Euro pun,” ungkapnya.
Keputusannya pindah ke Yamaha Open bersama Forward Racing menjadi titik balik kariernya. Hasilnya: ia finis keenam dunia.
“Itu keputusan terbaik dalam karier saya. Itulah yang membawa saya ke Suzuki,” tambahnya.
Namun, musim keduanya di Suzuki tidak berjalan mulus setelah peralihan ban dari Bridgestone ke Michelin.
“Saya jatuh berkali-kali. Maverick (Vinales, Red) langsung beradaptasi, sementara saya tidak. Saya hampir kehilangan kesempatan lagi,” sesalnya.
Aprilia: Tantangan Terbesar dan Puncak Karier
Ketika ditawari proyek Aprilia—yang saat itu jauh dari kata kompetitif—Aleix memutuskan untuk menerimanya sebagai tantangan pribadi.
“Saya bilang ke istri saya: Saya akan tunjukkan bahwa motor ini bisa kompetitif. Tidak ada tantangan yang lebih besar dari ini,” tuturnya.
Butuh waktu bertahun-tahun, tetapi hasil akhirnya datang.
Pada 2022, ia memenangkan balapan dan sempat bersaing dalam perebutan gelar juara dunia.
“Itu tahun yang luar biasa. Kami mencoba sampai akhir. Tapi saya rasa waktu itu kami belum sepenuhnya siap—baik Aprilia maupun saya,” katanya.
Editor : Imron Hidayatullahh