Radar Jember - Setelah memastikan gelar juara dunia MotoGP 2025 di Jepang, bulan lalu, Marc Marquez ternyata masih berpeluang kehilangan satu trofi bergengsi lainnya—BMW M Award 2025.
Meski memimpin klasemen khusus ini, absennya Marc Marquez akibat cedera membuat posisinya mulai terancam oleh dua pesaing terdekat: Alex Marquez dan Fabio Quartararo.
Masih Jadi Pemimpin, tapi Belum Aman
BMW M Award diberikan kepada pembalap dengan hasil kualifikasi terbaik sepanjang musim, menggunakan sistem poin yang mirip dengan kejuaraan dunia MotoGP.
Saat ini, Marc Marquez memimpin klasemen dengan 351 poin, disusul Alex Marquez (292 poin) dan Fabio Quartararo (272 poin).
Namun, dengan dua seri tersisa—Portugal dan Valencia—peluang masih terbuka lebar.
Cedera yang membuat Marc Marquez absen dari MotoGP Malaysia bisa jadi krusial, karena rivalnya bisa memangkas jarak dengan cepat.
Artinya, sang juara dunia MotoGP 2025 belum tentu bisa menambah koleksi BMW M-nya tahun ini.
Baca Juga: Ducati Ketar-ketir, Marc Marquez Pegang Semua Kartu Negosiasi Kontrak MotoGP 2027
BMW M Award: Hadiah Mewah untuk Sang Tercepat
Pemenang BMW M Award 2025 akan menerima BMW M2 CS Velvet Blue Metallic, mobil sport edisi terbatas dengan performa buas.
Model ini mengusung mesin enam silinder segaris berteknologi M TwinPower Turbo, dengan tenaga 530 HP (390 kW) dan akselerasi 0–100 km/jam hanya dalam 3,8 detik.
Hadiah tersebut akan diberikan pada seri terakhir di Valencia, pertengahan November mendatang.
Marc Marquez, Raja BMW M Award
Sejak penghargaan ini diperkenalkan, Marc Marquez adalah raja mutlak dengan 7 gelar BMW M Award.
Jika ia berhasil mempertahankan posisi puncak, trofi ini akan menjadi yang kedelapan—angka yang sama dengan jumlah gelar juara dunianya di MotoGP.
Namun, jika tidak, maka sang adik, Alex Marquez, atau Fabio Quartararo bisa mencetak sejarah baru sebagai pengganti dominasi Marc.
Selain Marquez, nama-nama besar seperti Pecco Bagnaia, Jorge Lorenzo, Casey Stoner, dan Valentino Rossi juga pernah menjadi pemenang BMW M Award lebih dari satu kali.
Editor : Imron Hidayatullahh