Radar Jember - Kemenangan ganda Aprilia di MotoGP Australia semakin memperkuat posisinya sebagai ancaman serius bagi dominasi Ducati.
Apalagi podium Phillip Island, Minggu (19/10) lalu, didominasi Aprilia, dengan Raul Fernandez menjadi juara dengan tim Trackhouse Aprilia, dan Marco Bezzecchi finis kedua bersama Aprilia Pabrikan.
Ironis bagi Ducati, saat Marc Marquez absen karena cedera bahu, performa tim merah itu justru jeblok.
Hal ini memperlihatkan betapa besar ketergantungan tim asal Bologna itu kepada sang juara dunia 9 kali.
Sementara Bagnaia, agaknya belum bisa lepas dari bayang-bayang rekan setimnya.
Mimpi Indah Ducati Berubah Jadi Kekacauan
Padahal, hingga MotoGP Indonesia, musim 2025 berjalan nyaris sempurna bagi Ducati.
Marc Marquez membawa pabrikan Italia itu meraih gelar dunia ketujuhnya di MotoGP—pencapaian bersejarah setelah masa cedera panjangnya.
Namun, absennya Marquez membuat pesta juara itu berubah menjadi krisis performa, terutama di kubu Pecco Bagnaia.
Sang juara bertahan tampil di bawah ekspektasi.
Sejak MotoGP Austria, Bagnaia hanya mengumpulkan 61 poin dan bahkan gagal finis di empat seri terakhir, termasuk di Australia.
“Entahlah apa yang terjadi sejak Austria. Lebih baik saya lupakan saja,” ujar Bagnaia di Phillip Island, menggambarkan keputusasaannya setelah akhir pekan yang disebutnya “tak bisa dijelaskan.”
GP25, Dari Mesin Juara Jadi ‘Troli Tiga Roda’
Yang membuat situasi makin janggal, motor GP25 yang membawanya meraih dua kemenangan di Motegi tak mengalami perubahan berarti.
Ducati bahkan mengutak-atik setelan motor hingga Minggu pagi (19/10) di Australia, tapi tetap gagal menemukan stabilitas.
Dalam sprint race, pria 28 tahun itu finis ke-19, tertinggal lebih dari 30 detik dari Marco Bezzecchi dan melaju 2,5 detik lebih lambat per lap.
Motor GP25-nya disebut “seperti troli belanja tiga roda” karena begitu sulit dikendalikan.
Di sisi lain, Fabio Di Giannantonio—dengan motor serupa—justru melesat dan finis kedua di balapan utama, Minggu (19/10), meski bertarung sambil menahan demam tinggi.
“Motor banyak bergerak di Phillip Island, tapi saya tetap bisa cepat,” ujarnya santai.
Sedangkan, Bagnaia justru tersungkur di sektor 2 ketika balapan tersisa 4 lap.
Performa Diggia membuktikan GP25 bukanlah masalah utama—melainkan kepercayaan diri Bagnaia yang benar-benar runtuh.
Aprilia Bangkit, Ducati Tersentak
Saat Ducati tengah terseok-seok tanpa kehadiran ujung tombak mereka, kemenangan Raul Fernandez dan Marco Bezzecchi di Phillip Island menunjukkan bahwa Aprilia bukan lagi sekadar kuda hitam.
Melainkan ancaman nyata bagi dominasi Ducati pada balapan maupun musim berikutnya.
Ducati bahkan untuk pertama kalinya sejak 2020 gagal menempatkan satu pun motor di barisan depan kualifikasi, dan rekor podium sprint mereka sejak 2023 pun terhenti.
Tanpa Marc Marquez, kekuatan Ducati runtuh di hadapan Aprilia yang semakin solid dan agresif.
Pabrikan asal Noale itu benar-benar mengalihkan perhatian fans MotoGP.
Performa Bezzecchi yang mampu naik podium meski menjalani dua long lap penalty akibat insiden di Mandalika, membuktikan RS-GP bukan lagi mesin sembarangan.
Bahkan membawanya ke posisi 3 klasemen dunia, menggeser Bagnaia.
Dengan hasil itu, kedatangan Bezzecchi di Sepang, Malaysia, akhir pekan ini, tak lagi sama di mata Bagnaia dan Ducati.
Ini menjadi gertakan nyata bagi kubu Borgo Panigale.
Bahkan seperti gemuruh genderang perang dari Aprilia untuk musim MotoGP berikutnya, seperti pernyataan Massimo Rivola, bos Aprilia.
“Saya tidak ragu Jorge dan Marco akan bertarung untuk memperebutkan gelar juara dunia tahun depan,” ujarnya.
Editor : Imron Hidayatullahh