Radar Jember - Marco Bezzecchi menjalani balapan penuh tantangan di Grand Prix kali ini.
Dua long lap penalty tak menghentikannya untuk tampil luar biasa dan meraih podium yang begitu berarti—bahkan cukup untuk menyalip Pecco Bagnaia di klasemen dunia.
“Saya tidak tahu apakah Aprilia sekarang lebih baik dari Ducati,” ujar Bezzecchi usai balapan, dikutip Radar Jember dari laman GPOne.
“Yang pasti, sejak awal musim, RS-GP meningkat pesat dalam hal stabilitas. Itu membuat saya bisa kembali mengerem keras seperti dua tahun lalu. Hanya para jurnalis yang berpikir saya bisa menang hari ini,” ucapnya sambil tertawa.
Meski peluang menang terasa mustahil, pembalap Italia itu tampil ngotot sejak awal hingga akhir.
Strategi tim berjalan sempurna: ia berhasil mengelola penalti dan ban tanpa kehilangan ritme.
“Saya hanya berusaha keras di awal agar tidak terjebak di tengah rombongan setelah penalti pertama. Untungnya, strateginya berjalan dengan baik,” kata Bezzecchi.
Setelah menjalani dua long lap, Bezzecchi masih berada di posisi keenam.
Ia pun mulai mengejar satu per satu lawan di depannya.
“Ketika mengejar Pedro (Acosta), saya pikir itu akan sulit. Tapi saya bisa menyalipnya, lalu mencoba menekan Alex Marquez juga. Saya ingin setidaknya mencoba,” ujarnya.
Bezzecchi mengaku tidak pernah berpikir bisa finis di posisi ketiga.
“Setelah long lap kedua, saya tahu masih terlalu banyak lap tersisa untuk memaksa. Saya memilih menjaga jarak dengan pembalap di depan tanpa terlalu menekan ban. Di lap terakhir, saya berikan semua yang saya punya. Dapat posisi ketiga rasanya seperti hadiah besar,” ucapnya senang.
Direktur Aprilia, Massimo Rivola, menyebut ini sebagai “balapan kedewasaan” Bezzecchi.
Sang pembalap pun sepakat.
“Saya pikir ini salah satu balapan terbaik saya. Semua berkat tim yang menyiapkan strategi sempurna, baik untuk penalti maupun manajemen ban. Mereka yang mengatur hampir semuanya—saya hanya perlu menjalankannya,” katanya.
Ketika ditanya soal performanya di tengah grup, Bezzecchi mengakui masih ada kesulitan.
“Saya punya gaya membalap agresif saat pengereman. Kalau di grup, saya bisa terlalu dekat dan motor jadi tidak stabil. Tapi saya terus berusaha memperbaikinya,” jelasnya.
Apakah Aprilia kini lebih baik dari Ducati?
“Saya tidak tahu, karena saya tidak mengendarai Ducati. Tapi saya merasa luar biasa dengan motor saya sekarang. Para insinyur bekerja luar biasa, dan motor ini kuat di hampir semua trek. Kami hanya perlu terus bekerja seperti ini,” jawabnya tegas.
Bezzecchi juga menyoroti peningkatan besar Aprilia tahun ini.
“RS-GP meningkat di banyak aspek, tapi yang paling terasa adalah stabilitas. Itu membuat saya bisa kembali mengerem keras seperti di 2023. Stabilitas adalah kunci terbesar kemajuan kami,” pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh