Radar Jember – Francesco “Pecco” Bagnaia mengaku frustrasi setelah hari pertama MotoGP Australia berakhir dengan masalah teknis yang belum juga terpecahkan.
Pembalap Ducati itu mengatakan salah satu motor GP25 miliknya mengalami persoalan yang sama persis seperti di Mandalika, dan tim belum tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Datang ke Phillip Island dengan status juara dunia dua kali, Bagnaia awalnya berharap bisa bangkit setelah bencana di Indonesia—di mana ia finis terakhir di Sprint dan terjatuh di balapan utama.
Namun, Jumat (17/10) di Australia kembali berjalan berat.
“Sisi positifnya, saya akan memulai dari posisi yang lebih baik dibanding pekan lalu,” kata Bagnaia dikutip Radar Jember dari laman Crash.
“Tapi hari ini sulit dipahami, karena kami mengalami banyak masalah dengan salah satu motor di dua sesi. Saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan yang sudah bagus di awal, karena gangguan itu,” tambahnya.
Meski begitu, Bagnaia masih berhasil menembus posisi kesembilan dan langsung lolos ke Q2.
“Lap saya tidak sempurna, tapi target masuk Q2 tercapai. Itu hal baik. Sekarang fokus kami adalah memahami ban terbaik untuk Sprint,” ujarnya.
Saat ditanya apakah gangguan teknis itu sama seperti yang dialami di Mandalika, Bagnaia tegas membenarkan.
“Ya, persis sama. Sayangnya, kami belum tahu bagaimana memperbaikinya. Ini sudah terjadi dua atau tiga kali musim ini, tapi kami belum menemukan asal masalahnya,” sesalnya.
Ia menambahkan bahwa tim teknis Ducati sedang menganalisis penyebabnya.
“Saya tahu tim sedang berusaha keras mencari solusinya, tapi untuk saat ini kami belum tahu dari mana datangnya masalah itu,” ucapnya.
Bagnaia menjelaskan bahwa hanya satu dari dua motornya yang masih bisa digunakan dengan baik.
“Yang satunya bisa dipakai, tapi rasanya tidak seperti di Jepang. Saat melepas rem, motor berputar, dan itu membuat saya kehilangan grip di bagian depan. Hal ini sudah saya alami sepanjang musim, kecuali di Jepang, di mana semuanya terasa sempurna,” jelasnya.
Menurut Bagnaia, Ducati masih berjuang untuk mengembalikan sensasi sempurna seperti yang ia rasakan di Motegi.
“Kami berusaha membuat motor ini lebih mirip dengan setelan di Jepang, tapi sejauh ini belum berhasil. Di Indonesia kami punya banyak masalah, dan di sini setidaknya motor bisa bekerja, tapi tetap ada keterbatasan,” pungkasnya.
Di Sprint Race, Sabtu (18/10), Bagnaia juga tak menampilkan hasil yang baik.
Dia hanya finish di posisi ke-19.
Bagnaia juga dijatuhi sanksi turun tiga posisi pada balapan utama karena dianggap menghalangi Marco Bezzecchi pada sesi kualifikasi Q2.
Hal ini memperpanjang catatan buruknya di MotoGP.
Lebih buruk lagi, balapan utama, Minggu (19/10), alih-alih finis di zona poin dengan posisi ke-12, dia justru tersungkur ke gravel saat balapan tersisa hanya 4 lap.
Bagnaia kehilangan keseimbangan yang berujung low side crash di sektor 2 Phillip Island.
Sialnya lagi bagi Bagnaia, posisinya di klasemen kini digeser oleh Marco Bezzecchi, pembalap Aprilia, yang berhasil finis ketiga, di belakang Fabio di Gianantonio dan sang juara, Raul Fernandez.
Hasil ini bisa dianggap mencoreng wajah Ducati Lenovo karena Pecco turun peringkat menjelang akhir musim MotoGP 2025.
Editor : Imron Hidayatullahh