Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Respons Franco Morbidelli Setelah Dikritik Terlalu Agresif di Lintasan MotoGP: Saya Memang Pembalap Bengis!

Imron Hidayatullahh • Selasa, 7 Oktober 2025 | 21:34 WIB

Franco Morbidelli, rider VR46 Racing Team, di Mandalika, Indonesia. Ia dikenal dengan gaya berkendara agresif, bahkan berlebihan.
Franco Morbidelli, rider VR46 Racing Team, di Mandalika, Indonesia. Ia dikenal dengan gaya berkendara agresif, bahkan berlebihan.

Radar Jember - Franco Morbidelli akhirnya buka suara setelah mendapat kritik tajam soal gaya menyalipnya yang dianggap terlalu agresif pada MotoGP Indonesia 2025 di Mandalika.

Pembalap tim VR46 Ducati itu menegaskan dirinya tak pernah bertindak sembrono dan selalu mematuhi batas yang ditetapkan oleh Simon Crafar, kepala pengawas balapan FIM.

“Saya tahu ada beberapa keluhan soal cara saya menyalip kemarin dan hari ini. Tapi, Simon (Crafar) memantau semua gerakan saya dengan sangat detail. Kami sering berdiskusi, dan saya selalu mengikuti penilaiannya,” ujar Morbidelli, dinukil dari laman Crash.

Morbidelli menyebut bahwa dirinya kini sangat berhati-hati setelah serangkaian insiden musim ini.

Termasuk long lap penalty di Catalunya karena tabrakan dengan Jorge Martin.

Saat itu, stewards bahkan menegaskan bahwa pelanggaran berikutnya bisa berujung pada hukuman ride-through.

“Simon adalah sosok yang sangat adil dan konsisten. Ia menjelaskan segalanya dengan baik. Semua pembalap seharusnya menghormati penilaiannya,” tegas Morbidelli.

Dituduh Liar oleh Rekan Sendiri

Meski tak lagi mendapat sanksi, gaya agresif Morbidelli kembali dikeluhkan oleh rekan setimnya di VR46, Fabio di Giannantonio, usai sprint race di Mandalika.

“Sayangnya, rekan setim saya kembali merusak balapan saya dengan manuver bodoh,” kata Di Giannantonio yang finis di posisi kedelapan.

Keesokan harinya, giliran Jack Miller (Pramac Yamaha) yang kesal karena nyaris bersenggolan di tikungan 11 dan 12.

“Kami tak sampai bersentuhan hanya karena saya sempat mengerem lebih cepat. Begitu motor saya miring ke kiri, saya justru terjatuh,” keluh Miller.

Menanggapi tudingan itu, Morbidelli menegaskan bahwa gaya menyerangnya bukan bentuk agresivitas yang berbahaya.

“Saya memang pembalap yang garang, saya menyerang kapan pun ada peluang. Tapi saya tidak pernah berniat jahat. Tahun ini saya banyak belajar dari Simon tentang bagaimana menyalip dengan aman—tanpa menyentuh lawan, tanpa memaksa keluar lintasan,” katanya.

Menurut Morbidelli, batas itu sangat jelas: menyalip tanpa membahayakan pembalap lain.

“Itulah batas yang saya hormati, dan Simon membuat semua pembalap mematuhinya,” ujarnya.

Morbidelli juga memuji kinerja Simon Crafar yang dinilainya adil dan tegas dalam memberi keputusan.

“Kita punya wasit yang hebat. Saya sudah menerima beberapa penalti darinya tahun ini, dan semuanya pantas. Kami sering berbicara, dan saya belajar banyak darinya. Sekarang saya tetap jadi pembalap agresif, tapi sepenuhnya di dalam batas yang ditetapkan Simon,” tutupnya.

Dengan empat seri tersisa, Morbidelli dan Di Giannantonio masih bersaing ketat untuk posisi kelima klasemen dunia, dipisahkan oleh Pedro Acosta dari KTM.

Editor : Imron Hidayatullahh
#mandalika #franco morbidelli #VR46 #Fabio Di Giannantonio #fim #ducati #MotoGP