Radar Jember - Kejuaraan Dunia MotoGP 2025 sudah resmi milik Marc Marquez setelah kepastian di MotoGP Jepang, akhir pekan lalu.
Gelar ini terasa istimewa karena datang dengan lima balapan tersisa.
Menegaskan comeback luar biasa sang juara dunia delapan kali.
Mantan pembalap MotoGP, Ruben Xaus, memuji kebangkitan Marquez lewat komentar tajamnya di program Duralavita.
“Saya rasa setiap gelar itu spesial, dengan situasi dan momennya masing-masing. Tapi kali ini, Marc sedang berada di level emosional yang spektakuler. Itu yang jadi pembeda,” kata Xaus.
Menurutnya, kembalinya Marquez bukan tanpa risiko.
“Seorang atlet elite seperti Marc sebenarnya tidak perlu lagi membuktikan apa pun. Tapi ketika dia memilih kembali ke level tertinggi, selalu ada risiko. Untungnya ceritanya berakhir indah, meski di jalan bisa saja terjadi hal yang membuatnya menyesal,” jelasnya.
Xaus juga menyoroti kemampuan Marquez yang dianggap mampu mengendalikan banyak aspek sekaligus.
“Judul juara ini bukan hanya soal kecepatan. Ada faktor pemulihan fisik, mental, hingga situasi personal. Dia bahkan mendukung adiknya, Alex, yang kini berpeluang jadi runner-up dunia. Semua itu bagian dari cerita besar kebangkitannya,” ungkapnya
Tentang gaya balap Marquez, Xaus menyebutnya unik.
“Marc hidup di batas. Dia belajar menjadi yang terbaik dengan selalu berada di ambang batas itu. Kalau tidak ada jatuh, dia tidak akan tahu limitnya. Bedanya, sebagian besar jatuhnya terjadi saat latihan, bukan balapan. Statistik menunjukkan, kalau dia menang 10 seri, dia masih bisa jatuh lima kali dan tetap juara,” ungkapnya.
Namun, Xaus menilai Marquez belum kembali ke versi terbaiknya.
Di sinilah sosok Valentino Rossi, rival lamanya, disebut punya pengaruh.
“Bagi saya, Rossi justru membuat Marquez semakin besar. Bukan di lintasan, tapi di luar trek—Rossi sedang mengajarinya bagaimana cara tidak melakukan hal-hal tertentu. Bahkan tanpa bicara langsung, pengaruh Rossi masih terasa,” pungkas Xaus.
Editor : Imron Hidayatullahh