Radar Jember - Francesco Bagnaia akhirnya menemukan kembali rasa percaya dirinya.
Di Sirkuit Motegi, Jepang, ia meraih akhir pekan sempurna dengan kemenangan di kualifikasi, sprint, dan balapan utama Grand Prix.
Itu menjadi kemenangan pertamanya sejak GP Amerika pada Maret lalu.
Sekaligus yang ke-31 dalam kariernya—menyamai torehan Dani Pedrosa dan Eddie Lawson.
Namun, perjalanan Bagnaia di Motegi sempat diwarnai drama.
Mulai lap ke-15, Desmosedici tunggangannya mengeluarkan asap dari knalpot.
Meski finish sebagai pemenang, ia mengaku baru tahu setelah balapan.
“Mereka bilang ke saya setelah lomba. Saya tidak melihat apa-apa. Di lap terakhir saya merasa agak lambat keluar tikungan, tapi tidak tahu apa penyebabnya. Kalau sampai didiskualifikasi, saya pasti sangat kesal,” ucapnya, dilansir Radar Jember dari laman GPOne.
Bagi Bagnaia, balapan di Motegi jadi titik balik setelah musim yang berat.
“Ini pertama kalinya sepanjang musim saya benar-benar mengendarai motor saya, bukan bertarung dengannya,” ungkapnya.
“Rasanya jauh lebih mudah, terutama saat pengereman keras dan masuk tikungan. Jika bukan karena tes di Misano, akhir pekan ini bisa jadi bencana seperti Barcelona,” jelasnya.
Pecco menyebut tes di Misano sebagai momen yang menyelamatkan musimnya.
“Di sana saya sadar perubahan yang kami buat benar-benar bekerja. Sejak FP1 di Motegi saya bisa langsung cepat, dan kualifikasi menguatkan keyakinan bahwa saya bisa menang,” ujarnya.
Bagnaia juga memberi kredit besar kepada Casey Stoner dan Manuel Poggiali.
“Keduanya membantu banyak di tes Misano. Mereka melihat ada perbedaan jelas antara motor yang stabil dan motor yang banyak bergerak. Pendapat mereka membuat arah kami lebih jelas.”
Hormat untuk Márquez, Tapi Ingin Balas Musim Depan
Meski meraih kemenangan penting, Bagnaia tak lupa memberi hormat kepada Marc Marquez yang sudah mengunci gelar juara dunia ke-9 di Motegi.
“Marc sempurna dari awal sampai akhir musim. Bahkan di momen sulit, ia selalu finis 1, 2, atau 3. Saya sudah menduga dia akan seperti ini, tapi saya tidak menyangka musim saya akan seberat ini. Semoga di lima balapan terakhir saya bisa berada di levelnya,” katanya.
Bagnaia menutup dengan rasa optimistis untuk sisa musim dan tahun depan.
“Apakah 2026 saya mulai sekarang? Bisa jadi. Target terdekat adalah mengejar posisi kedua klasemen dari Alex. Sulit memang, jaraknya 66 poin dengan lima balapan tersisa. Tapi kemenangan ini memberi motivasi besar. Kami akan terus melihat ke depan, bukan ke belakang,” pngkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh