Radar Jember — Jorge Lorenzo kembali buka suara soal mentalitasnya selama berkarier di MotoGP.
Juara dunia lima kali itu mengungkap bagaimana ambisinya yang disebut “genetik” membuatnya terus haus kemenangan sejak kecil.
“Saya lahir sudah ambisius, kompetitif, selalu ingin menang. Itu sudah ada dalam diri saya sejak kecil,” kata Lorenzo, dilansir Radar Jember dari laman Motosan.
Mantan pembalap Yamaha itu mengaku dirinya bukan tipe teknisi, tapi sangat peka dengan motor yang ditunggangi.
“Saya selalu sensitif. Hanya dua tikungan sudah tahu apakah part baru membuat saya lebih cepat atau tidak. Padahal saya tidak tahu cara kerja mesin, tapi punya kepekaan itu,” ucapnya.
Tak hanya soal kecepatan, Lorenzo juga menyinggung karakter keras yang sengaja ia tonjolkan untuk menakut-nakuti rival.
Ia bahkan mengaku terinspirasi dari sosok kontroversial seperti Muhammad Ali, Cristiano Ronaldo, hingga Max Biaggi—musuh bebuyutan Valentino Rossi.
“Biaggi itu inspirasi saya. Dari gaya angkat roda, desain nomor, sampai cara balapnya yang halus. Saya suka tiru dia sejak kecil,” ungkap Lorenzo.
Soal kebiasaan latihan, Lorenzo membandingkan dirinya dengan Rossi.
Ia mengklaim lebih disiplin, bahkan menjuluki dirinya “Cristiano Ronaldo-nya MotoGP” karena berlatih tujuh jam sehari.
“Valentino lebih anarkis. Dia punya kelompok Tavullia, ada ranch, main dirt track rame-rame, lebih ke fun. Dia memang jenius, tapi bukan atlet fisik seperti Marc Marquez atau rider generasi sekarang,” kata Lorenzo menyindir.
Selain fisik, Lorenzo juga menekankan kekuatan mental.
Ia terbiasa memakai headphone di grid start untuk mengisolasi suara bising, mengatur napas, dan mendengarkan musik demi menjaga fokus.
“Saya banyak visualisasi. Dari jalannya balapan, sampai selebrasi kemenangan. Semua dulu saya bayangkan di kepala,” tambahnya.
Lorenzo menutup dengan refleksi bahwa cara berpikir ini juga ia terapkan di kehidupan sehari-hari.
“Hampir semua hal bisa tercipta kalau sudah kamu bayangkan lebih dulu. Kadang cepat, kadang lambat, tapi asal ada di kepala, bisa diwujudkan,” pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh