Radar Jember - Liberty Media resmi mengambil alih 84 persen saham Dorna, penyelenggara MotoGP.
Namun, langkah awal perusahaan asal Amerika Serikat itu justru menuai kritik keras.
Sejak GP Montmelo dan Misano, jejak “sentuhan F1” mulai terlihat jelas di paddock MotoGP.
Mulai dari prosesi lagu kebangsaan ala Formula 1, hingga pengumuman bahwa MotoE akan dihentikan musim depan.
Namun, yang paling kontroversial adalah keputusan Liberty Media untuk meremehkan Moto2 dan Moto3, bahkan sampai menghapus status “juara dunia” dari para pembalap di kelas kecil.
Mulai tahun depan, hanya gelar di kelas utama—500cc/MotoGP—yang akan diakui sebagai World Champion.
Artinya, gelar di kelas 125cc, 250cc, Moto2, dan Moto3 tidak akan lagi dihitung dalam rekor resmi.
Kebijakan ini berpotensi “memangkas” sejarah banyak legenda.
Marc Marquez, misalnya, yang seharusnya mengejar gelar dunia kesembilannya, hanya akan diakui memiliki tujuh gelar karena titel Moto2 (2012) dan 125cc (2010) tak lagi dihitung.
Valentino Rossi yang dikenal punya sembilan gelar juga otomatis “turun” jadi tujuh.
Bahkan rekor 15 kali juara dunia Giacomo Agostini juga dipangkas menjadi delapan saja.
Paling menyakitkan, gelar 12+1 milik Angel Nieto bisa benar-benar hilang dari catatan resmi.
Nama besar lain seperti Dani Pedrosa, Jorge Martinez Aspar, Sito Pons, hingga juara muda seperti Pedro Acosta dan Alex Marquez pun otomatis tak lagi punya status “juara dunia”.
Kebijakan ini dianggap sebagai pelecehan terhadap sejarah balap motor.
Para penggemar dan pembalap menolak keras.
Menegaskan bahwa sejarah tidak bisa ditulis ulang hanya demi menjadikan MotoGP sekadar “show-business” seperti Formula 1.
Editor : Imron Hidayatullahh