Radar Jember - MotoGP tengah libur akhir pekan, namun sorotan mulai tertuju ke Motegi.
Di sirkuit Jepang itu, Marc Marquez bisa menuliskan salah satu kisah terbesar dalam sejarah balap motor dunia.
Sejak Grand Prix pertama pada 1949, hanya 29 pembalap yang berhasil menjadi juara dunia kelas utama.
Namun, lebih sulit lagi mempertahankan atau merebut kembali mahkota setelah kehilangan gelar.
Dari Geoff Duke di era 1950-an, Giacomo Agostini pada 1970-an, hingga Eddie Lawson, Valentino Rossi, dan Casey Stoner, hanya sedikit rider yang mampu melakukannya.
Valentino Rossi sempat mendekati rekor itu pada 2015.
Setelah gelar terakhirnya di 2009, ia hanya kalah empat poin dari Jorge Lorenzo di musim penuh drama dan kontroversi, saat “triangle” Rossi–Lorenzo–Marquez mengguncang paddock.
Jika Rossi berhasil, ia akan mencatat jarak terpanjang antara kehilangan dan merebut kembali gelar.
Namun sejarah berkata lain.
Kini, giliran Marquez yang bisa melampaui semuanya.
Ia sudah pernah kehilangan gelar pada 2015 dan langsung merebutnya kembali setahun kemudian.
Tetapi kali ini tantangannya berbeda.
Comeback setelah lima tahun tanpa gelar, usai cedera serius, krisis bersama Honda, hingga langkah berani meninggalkan jutaan dolar untuk tim satelit Gresini, sebelum akhirnya ke Ducati pabrikan.
Jika Marquez juara dunia MotoGP 2025, ia akan melakukan sesuatu yang tak pernah berhasil dilakukan siapa pun: merebut kembali gelar setelah enam tahun kosong.
Rekor yang hanya bisa disentuh Rossi, namun tak pernah tercapai.
Selain akan menyamai rekor tujuh titel kelas utama milik Rossi, Marquez juga berpeluang mendekat ke delapan gelar Agostini.
Motegi bisa jadi saksi awal, apakah rider asal Cervera itu benar-benar menulis salah satu kisah comeback paling besar dalam sejarah olahraga, jauh melampaui dunia MotoGP.
Editor : Imron Hidayatullahh