Radar Jember - Pedro Acosta harus menerima kenyataan pahit di GP San Marino, Misano.
Pembalap muda asal Murcia itu gagal menyelesaikan balapan setelah rantai motornya putus saat tengah bersaing di barisan depan.
Meski kecewa, Acosta tetap menyoroti sisi positif dari akhir pekan yang sulit bersama KTM.
Ia menilai progres yang ditunjukkan tim cukup signifikan, meski hasil akhirnya harus pupus karena masalah mekanis.
“Sayang sekali, tapi ini olahraga yang sangat bergantung pada mesin. Hal-hal seperti ini bisa saja terjadi, walau seharusnya tidak,” kata Acost, dilansir Radar Jember dari laman Motosan.
“Dari kondisi sulit sejak Jumat, kami perlahan bangkit. Bahkan bisa jadi satu-satunya KTM yang tampil kompetitif. Itu sebabnya sangat disayangkan, karena seharusnya kami bisa mencatat hasil bagus di sini.”
Acosta menilai start balapannya salah satu yang terbaik sejauh musim ini.
Ia merasa sempat memiliki peluang memperkecil jarak dengan Alex Marquez, bahkan mungkin meraih podium.
“Motor bekerja sangat baik. Setelah beberapa lap, saya sudah di posisi keempat. Jika tidak ada masalah, saya yakin kami bisa bersaing di lima besar,” ujarnya.
Namun, kerusakan rantai mengakhiri harapannya.
“Kalau rantai lepas dan mengenai pembalap lain, itu bisa berbahaya. Hal-hal seperti ini tidak boleh terjadi,” tegasnya.
Menatap seri berikutnya di Jepang, Acosta tetap optimistis.
Ia merasa lebih siap dibanding tahun lalu.
“Saya datang dengan kondisi lebih baik. Dalam beberapa pekan terakhir kami konsisten di lima besar. Bahkan saat hari buruk, kami masih bisa selamatkan poin. Sekarang waktunya melupakan ini dan fokus ke Jepang,” ungkapnya.
Meski frustrasi, Acosta mengapresiasi performa tim yang berhasil mengubah motor dari awal yang buruk menjadi lebih kompetitif.
“Jujur, sakit rasanya saat akhir pekan berakhir karena sesuatu di luar kendali saya. Tapi inilah balapan, dan kami harus terus bekerja agar motor lebih andal,” pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh