Radar Jember - Dinamika bursa transfer pembalap Moto3 menjelang musim baru bergerak cepat dan diwarnai efek domino (domino effect).
Pergerakan ini dipicu oleh langkah strategis talenta muda Spanyol, David Almansa, yang resmi berlabuh ke kubu pabrikan KTM.
Kepindahan Almansa meninggalkan celah besar di skuad Liqui Moly Dynavolt Intact GP.
Sebagai pilar utama dalam perburuan poin dan podium, kepergian Almansa membuat tim asal Jerman tersebut kehilangan figur pemimpin di lintasan, yang berpotensi menggoyahkan kestabilan serta daya saing mereka.
Baca Juga: Gagal Dekati Poin Veda Ega Pratama di Aragon 2026, Hakim Danish Ungkap Kendala Motor
Situasi tersebut mendorong Manajer Tim Intact GP, Peter Ottl, bergerak sigap di pasar transfer. Mengingat sengitnya persaingan di level internasional, Ottl tidak ingin asal memilih pembalap rookie.
Skuadnya membutuhkan sosok pengganti yang memiliki kecepatan murni sekaligus mentalitas bertarung yang teruji.
Nama pembalap asal Indonesia, Veda Ega Pratama, mendadak mencuat di posisi teratas radar perburuan Intact GP.
Veda dinilai sebagai satu-satunya talenta luar Eropa yang memiliki kapasitas teknis untuk mengisi posisi Almansa, bahkan berpotensi melampaui pencapaian pembalap Spanyol tersebut.
Guna mengamankan servis Veda dari incaran tim kompetitor, Intact GP menyodorkan penawaran kontrak fantastis senilai Rp28 miliar untuk musim 2027.
Baca Juga: Peringkat 6 Klasemen, Veda Ega Pratama Siap Hantam Moto3 Aragon 2026! Ini Jadwal Balapnya!
Langkah cepat ini diambil Peter Ottl lantaran menyadari potensi besar Veda yang turut dipantau oleh sejuta tim pabrikan lain.
Keberanian Intact GP menginvestasikan dana besar demi menutupi kekosongan tim membuktikan betapa bernilainya posisi Veda Ega Pratama di mata pengelola kejuaraan dunia.
Kepindahan Almansa ke KTM yang semula menjadi kerugian bagi Intact GP justru membuka jalan emas bagi karier pembalap muda Indonesia tersebut untuk menembus jajaran elite Grand Prix.
Editor : Imron Hidayatullahh