Radar Jember – Pengamat kawakan MotoGP, Carlo Pernat, kembali membeberkan pandangan tajamnya mengenai peta persaingan kejuaraan musim ini.
Dalam wawancaranya bersama La Gazzetta dello Sport, Pernat mengulas ketatnya persaingan papan atas, penurunan perfoma Ducati, hingga masa transisi besar jelang perubahan regulasi mesin 850cc.
Salah satu poin utama yang disoroti Pernat adalah kebangkitan pabrikan asal Jepang, khususnya Honda. Menurutnya, skema konsesi yang diterapkan MotoGP kurang efektif membantu Honda dan Yamaha karena justru lebih banyak membatasi pengembangan Ducati.
Baca Juga: Bos MotoGP Buka Suara! Opsi Pindah Sirkuit Makin Sulit, GP Qatar 2026 Terancam Batal Total!
Kendati demikian, ia memuji langkah agresif Honda yang sukses mengamankan Fabio Quartararo dan Davide Brivio.
"Quartararo dan Brivio adalah rekrutan luar biasa. Quartararo merupakan satu dari tiga pembalap pembeda di MotoGP saat ini, bersama Marc Marquez dan Pedro Acosta. Pilihan memboyong Brivio sangat tepat; dia sosok yang selalu mengelola tim dengan sempurna sejak era Yamaha, meraih gelar bersama Suzuki, hingga kinerjanya di Trackhouse saat ini," puji Pernat.
Soroti Performa Marc Marquez dan Kelemahan Ducati
Menyinggung situasi di kubu Ducati, Pernat menilai pabrikan Italia tersebut terlalu percaya diri dengan dominasinya.
Menurutnya, performa impresif Ducati musim lalu sebagian besar tertutupi oleh kehebatan individu Marc Marquez, bukan murni karena keunggulan motor.
"Motor Ducati terbaik sebenarnya terjadi pada versi 2024. Pengembangan versi 2025 tidak seefektif yang diharapkan, dan Marc menungganginya melampaui batas kemampuan motor. Ia memberikan performa ekstra hingga 30 persen karena motivasinya yang meluap usai cedera. Hal itulah yang menutupi kelemahan motor, sementara Bagnaia dan pengguna motor 2025 lainnya kesulitan," jelas Pernat.
Namun, untuk musim ini, Pernat melihat ada perubahan sikap pada diri The Baby Alien.
"Musim ini Marc tampil lebih hati-hati akibat cedera di awal musim. Dia tidak lagi memiliki 'api' atau hasrat liar seperti tahun lalu di mana dia tidak peduli jatuh bangun demi kemenangan. Marc tetap ingin menang, tetapi dia tidak lagi memberikan ekstra 30 persen itu di setiap balapan," tambahnya.
Tensi Panas Aprilia dan Skenario Duet Ducati 2027
Pernat juga mengamati dinamika di garasi Aprilia antara Marco Bezzecchi dan Jorge Martin. Meski Bezzecchi tampil kuat musim lalu, hadirnya Martin dalam kondisi puncak menciptakan ketegangan tersendiri di dalam tim, terutama setelah insiden di Sirkuit Balaton.
"Rivalitas seperti ini hal lumrah. Martin berada di pintu keluar tim dan dia hanya peduli pada kemenangan, bahkan berpotensi membawa nomor satu ke Yamaha. Namun, persaingan ini justru membuka kembali perburuan gelar juara," tutur Pernat.
Baca Juga: Gantikan Phillip Island di MotoGP 2027, Bocoran Tampilan Sirkuit Jalan Raya Adelaide Segera Dirilis!
Terkait masa depan Ducati yang akan menduetkan Marc Marquez dan Pedro Acosta, Pernat memberikan apresiasi tinggi kepada General Manager Ducati, Gigi Dall’Igna.
"Dall’Igna melakukan pekerjaan luar biasa. Memang berisiko menyatukan dua pembalap Spanyol di tim pabrikan Italia, tetapi Gigi hanya peduli pada kemenangan. Jika motor Ducati siap, sulit membayangkan bagaimana tim ini bisa dikalahkan," tegasnya.
Meski mengkritik beberapa hal, Pernat tetap menjagokan Marc Marquez untuk mengunci gelar juara musim ini berkat pemangkasan jarak poin yang impresif dan kedewasaannya dalam mengelola balapan.
"Marc tahu kapan harus menyerang untuk menang dan kapan harus bermain aman demi mengamankan poin. Dalam hal manajemen balapan, dia dua kali lebih unggul dibanding Bezzecchi maupun Martin," pungkas Pernat.
Editor : Imron Hidayatullahh