Radar Jember – Akhir pekan di Sirkuit Silverstone tidak berjalan mulus bagi Marc Marquez. Meski sempat memangkas waktu libur musim panas demi menggenjot kondisi fisiknya, pembalap asal Cervera tersebut gagal meraih hasil maksimal pada seri pembuka paruh kedua musim MotoGP.
Mengawali balapan dari posisi keenam pada sesi kualifikasi, Marquez hanya mampu mengamankan satu poin usai finis kesembilan di sesi Sprint Race—hasil yang sangat kontras dengan rekor dominannya di balapan jarak pendek.
Pada balapan utama hari Minggu (9/8/2026), ia melintasi garis finis di urutan ketujuh.
Baca Juga: Pol Espargaro Ulas Drama MotoGP Inggris: Itu Bukan Marc Marquez yang Kita Kenal!
"Target realistis kami sebenarnya finis di posisi lima besar, tetapi kami tidak mampu mengelolanya dengan baik dan akhirnya finis ketujuh," ujar sang penunggang Ducati yang menegaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada motor, melainkan pada dirinya sendiri.
Dominasi Aprilia dan Peringkat yang Merosot
Perjuangan Marquez makin berat seiring makin perkasanya pabrikan Aprilia. Jorge Martin yang memenangi Sprint Race dan finis kedua di balapan utama makin kokoh di puncak klasemen.
Marco Bezzecchi merebut dua podium ketiga hingga melesat ke posisi kedua klasemen keseluruhan. Sementara itu, meski Ai Ogura gagal finis akibat terjatuh, kemenangan sang rekan setim, Raul Fernandez, makin mendekatkan skuad Aprilia ke papan atas.
Gagal meraih poin maksimal membuat Marquez terlempar ke posisi keempat klasemen sementara dan kini tertinggal 40 poin dari pimpinan klasemen.
Baca Juga: Aturan Baru MotoGP 2027 Ancam Dominasi Ducati, Gigi Dall'Igna Malah Beri Reaksi Tak Terduga Ini!
Kehilangan 22 poin dalam satu akhir pekan menjadi pukulan telak baginya sekaligus bagi Ducati, yang kini berada di bawah bayang-bayang Aprilia.
Saat ini, keempat pembalap Aprilia sukses menembus posisi enam besar klasemen dan masing-masing telah mengemas minimal satu kemenangan di balapan utama.
Perbedaan Karakteristik Motor dan Aerodinamika
Secara teknis, karakter sirkuit Silverstone yang didominasi tikungan cepat sangat menguntungkan Aprilia. Motor RS-GP memiliki keunggulan dalam hal kemudahan memasuki tikungan (corner entry) dan kecepatan saat berada di tengah tikungan (corner speed).
Sebaliknya, karakter Ducati justru bertolak belakang karena lebih sulit saat melibas pertengahan tikungan, ditambah masalah kurangnya daya cengkeram (grip) yang dialami Pecco Bagnaia.
Evolusi gaya balap Marquez yang beralih ke karakter stop-and-go—dikombinasikan dengan keterbatasan fisiknya—membuatnya harus bekerja ekstra keras di atas motor yang kurang ideal untuk sirkuit seperti Silverstone.
Baca Juga: Apa yang Terjadi kepada Marc Marquez Jelang MotoGP Inggris? Ngaku Jantungnya Berdetak Lebih Kencang
Keterbatasan Fisik dan Cedera Lengan Kanan
Sepanjang kariernya, Marquez tidak pernah begitu terbuka mendiskusikan kondisi fisiknya seperti sekarang. Rentetan cedera sejak 2020 memaksa pembalap berjuluk The Baby Alien tersebut terus beradaptasi.
Sirkuit Silverstone sendiri memiliki sepuluh tikungan ke kanan, arah yang menjadi titik lemah Marquez akibat cedera pada bahu dan lengan kanannya.
Dampak dari empat kali operasi humerus kanan serta masa pemulihan dua kali operasi bahu kanan membuat performanya di lintasan searah jarum jam tidak bisa maksimal. Marquez dikenal jauh lebih unggul di sirkuit dengan dominasi tikungan ke kiri (anti-clockwise).
Baca Juga: Gaya Balap Marc Marquez Tak Bisa Ditiru, tapi Dia Justru Mengaku Ingin Meniru Legenda MotoGP Ini!
Peluang untuk bangkit terbuka lebar pada seri berikutnya di MotorLand Aragon. Karakter lintasan Aragon yang didominasi tikungan ke kiri diprediksi bakal menjadi panggung ideal bagi Marquez untuk merebut kembali performa terbaiknya.
Editor : Imron Hidayatullahh