Radar Jember – Mantan pembalap MotoGP, Pol Espargaro, membeberkan analissnya terkait seluruh dinamika yang terjadi di Grand Prix Silverstone. Balapan tersebut diwarnai oleh dominasi mutlak pabrikan Aprilia yang berhasil menguasai seluruh podium.
Espargaro menyoroti peningkatan konsistensi dan kecepatan pabrikan asal Noale tersebut, kemenangan gemilang Raul Fernandez, serta makin kokohnya Jorge Martin di puncak klasemen Kejuaraan Dunia.
Di sisi lain, ia juga membongkar penderitaan Ducati yang terpuruk akibat krisis degradasi ban belakang, termasuk insiden perangkat start Jorge Martin hingga jatuhnya Ai Ogura.
Baca Juga: Aturan Baru MotoGP 2027 Ancam Dominasi Ducati, Gigi Dall'Igna Malah Beri Reaksi Tak Terduga Ini!
Dominasi Mutlak Aprilia dan Momen Raul Fernandez
Keberhasilan tiga pembalap Aprilia menguasai podium di Silverstone membuktikan bahwa motor RS-GP kini tampil jauh lebih stabil dan kompetitif di berbagai karakter lintasan.
"Aprilia membuktikan bahwa sejak era Aleix Espargaro, motor mereka memang bekerja sangat baik di sini. Hal terbaiknya adalah kecepatan mereka terus meningkat, bahkan di sirkuit yang dulunya sulit. Di sirkuit cepat dengan perubahan arah yang membutuhkan stabilitas seperti Silverstone, mereka tampil jauh lebih kompetitif dari sebelumnya," ujar Espargaro.
Performa impresif ini juga mengukuhkan posisi Raul Fernandez sebagai kandidat kuat dalam perebutan gelar juara dunia musim ini.
"Raul membuktikan dirinya sangat cepat di dua situasi rumit. Pertama, bermain di bawah tekanan saat belum memegang kontrak musim depan. Kedua, tetap tampil konsisten saat masa depannya sudah aman," tegasnya.
Baca Juga: Apa yang Terjadi kepada Marc Marquez Jelang MotoGP Inggris? Ngaku Jantungnya Berdetak Lebih Kencang
Penderitaan Tim Pabrikan Ducati dan Masalah Ban
Berbeda dengan Aprilia yang tampil dominan, Ducati justru mengalami akhir pekan yang kelam. Tim pabrikan Lenovo Ducati menjadi kubu yang paling terdampak, dengan Pecco Bagnaia yang mencatatkan hasil buruk dan Marc Marquez yang kehilangan tajinya akibat masalah ban.
Untuk mengatasi ketertinggalan kecepatan, Ducati mencoba meningkatkan downforce dengan memasang sayap aerodinamika tambahan. Namun, langkah ini justru berujung bumerang.
"Ducati mencoba meningkatkan downforce agar lebih stabil. Kecepatan mereka memang naik dibanding tahun lalu, tetapi hal itu membuat mereka kehilangan grip (daya cengkeram). Ban mereka 'terbakar' dan tergerus jauh lebih cepat dibanding pabrikan lain," ungkap Espargaro.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada Marc Marquez yang biasanya tampil eksplosif. Pembalap asal Spanyol itu terpaksa bermain aman sepanjang balapan demi menjaga kondisi ban belakang.
Baca Juga: Gaya Balap Marc Marquez Tak Bisa Ditiru, tapi Dia Justru Mengaku Ingin Meniru Legenda MotoGP Ini!
"Marc bukan tipe pembalap yang boros ban karena tubuhnya ringan. Ia mencoba menghemat ban sepanjang balapan, dan itu bukan gaya Marc yang kita kenal," lanjut Espargaro.
Drama Perangkat Start Jorge Martin dan Insiden Ogura
Pol Espargaro juga memberikan penjelasan teknis mengenai masalah yang dialami Jorge Martin saat start. Perangkat penurun ketinggian motor (holeshot device) milik Martin tidak bisa kembali ke posisi semula di tikungan pertama.
"Di Silverstone, tikungan pertama adalah tikungan kanan berkecepatan tinggi yang tidak membutuhkan pengereman keras. Karena Martin tidak mengerem dengan keras, bagian belakang motor tidak terangkat untuk melepas perangkat tersebut. Akibatnya, posisi motor yang terlalu rendah sempat menyentuh aspal saat ia beralih ke jalur dalam," jelasnya.
Menutup analisisnya, Espargaro mengomentari jatuhnya Ai Ogura—satu-satunya penunggang Aprilia yang gagal finis—sebagai bukti betapa tipisnya batas antara kecepatan puncak dan kesalahan fatal di MotoGP saat ini.
Menurutnya, persaingan sengit antar-rekan sepabrikan memaksa para pembalap Aprilia terus menembus batas maksimal, sehingga potensi melakukan kesalahan kecil seperti hilangnya grip ban depan menjadi sangat tinggi.
Editor : Imron Hidayatullahh