Gak Sudi Bagi Ilmu Gratisan Lagi! Casey Stoner Ungkap Alasan Menolak Kembali ke Paddock MotoGP

Imron Hidayatullahh • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 16:49 WIB
Casey Stoner mengatakan ia tak punya kewajiban di paddock MotoGP, hanya suka berbagi saran. (Ducati)
Casey Stoner mengatakan ia tak punya kewajiban di paddock MotoGP, hanya suka berbagi saran. (Ducati)

Radar Jember - Sebagai mantan juara dunia dan ikon Ducati, Casey Stoner turut meramaikan gelaran World Ducati Week pada awal Juli lalu bersama deretan legenda balap lainnya.

Salah satu momen yang mencuri perhatian publik adalah saat Marc Marquez, Francesco Bagnaia, dan Stoner berada dalam satu bingkai foto yang sama.

Dalam momen tersebut, Pecco Bagnaia secara khusus menyampaikan apresiasi serta terima kasih kepada Stoner atas bimbingan dan saran yang kerap ia terima.

Pembalap asal Italia itu menilai pria yang kini berusia 40 tahun tersebut memiliki insting tajam untuk melihat detail yang kerap luput dari perhatian pembalap aktif.

Baca Juga: Bakal Tunggangi Desmosedici 850cc, Marc Marquez Minta Regulasi Aerodinamika MotoGP 2027 Dipangkas Habis-habisan!

Casey Stoner Emoh Bagikan Ilmu secara Gratisan

Merespons ucapan Pecco, Stoner menegaskan posisinya.

"Saya sudah terlalu banyak berkorban, tapi berkali-kali saya tidak menerima balasan seperti yang saya harapkan. Rasanya tidak ada penghargaan ketika melakukan hal-hal seperti ini. Merupakan kehormatan besar bagi saya mendengar Pecco berterima kasih kepada saya, dan saya melakukannya hanya untuk membantunya. Tapi ke depannya, saya tidak akan melakukan hal seperti itu untuk siapa pun," kata Casey Stoner.

Saat ditanya alasan enggan kembali ke paddock MotoGP sebagai manajer maupun penasihat tim, legenda balap asal Australia itu memberikan jawaban tegas.

Baca Juga: Ai Ogura Tuduh Marc Marquez Sembunyikan Hal Ini di Sachsenring, Video Ducati Jelaskan Semuanya!

"Saya tidak akan berbagi pengetahuan saya dengan siapa pun, tanpa imbalan. Sayangnya, dulu saya sudah terlalu sering melakukannya. Awalnya mereka mendekati kita karena butuh bantuan, tapi setelah mereka mendapatkan apa yang diinginkan, mereka akan melupakan kita begitu saja. Saya tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Saya tidak akan membantu tanpa alasan, dan saya tidak akan melakukannya secara cuma-cuma. Itulah alasan utama saya," tegas juara dunia MotoGP dua kali tersebut.

Pandangan Soal Regenerasi Pembalap Muda Australia

Mengenai minimnya regenerasi pembalap muda dari negerinya, Stoner mengungkapkan keprihatinannya atas krisis finansial dan dukungan di Australia.

"Saat ini dunia balap motor di Australia benar-benar sedang sulit, nyaris tidak ada apa-apa. Tidak ada anggaran yang cukup untuk melakukan ‘sesuatu’, semuanya sangat rumit. Bahkan keinginan untuk membantu pembalap muda pun sulit. Dan masalahnya selalu sama, semua itu menghabiskan banyak waktu," ungkap Stoner.

Ia menambahkan bahwa fokus hidupnya kini telah bergeser ke ranah keluarga.

"Saya tidak ingin membuang waktu dan energi saya untuk hal-hal yang tidak penting, ketika ada keluarga yang harus saya prioritaskan. Saya akan menunggu kesempatan yang tepat, dan mungkin ke depannya saya akan mengabdikan diri untuk membantu. Tetapi saya tidak akan memberikan pengetahuan saya secara gratis kepada orang-orang yang kemudian berpaling dari saya dan menganggap itu hal biasa. Sekarang cara pandang saya berbeda," sambungnya.

Baca Juga: Marc Marquez Pimpin Klasemen! Rebut Takhta BMW M Award 2026 Usai Kuasai Sachsenring, Duo Murid Rossi Menempel Ketat

Kecewa Phillip Island Coret dari Kalender MotoGP

Tahun 2026 dipastikan menjadi panggung terakhir Sirkuit Phillip Island menggelar ajang MotoGP. Keputusan ini memicu kekecewaan mendalam bagi suami Adriana Tuchyna tersebut.

"Ini benar-benar menyedihkan. Pada saat yang sama, ini menunjukkan kepada kita ke mana arah MotoGP ke depannya. Ini bukan lagi tentang kemurnian balapan, padahal inilah yang saya perjuangkan selama ini. MotoGP mulai mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan F1," tegas Stoner.

Stoner juga menyoroti penggunaan teknologi aerodinamika yang dinilainya sudah melenceng jauh dari esensi balap motor murni.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Pasrah Kehilangan Gelar Rookie of The Year Usai Dijegal Pembalap Red Bull KTM Ajo, Ini Alasannya!

"Kita mengalami masalah yang sama dengan aerodinamika yang semakin mendominasi. Saat ini semakin banyak perangkat yang dipasang pada motor, yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Beberapa tahun yang lalu, sebenarnya F1 sudah menyadari hal-hal ini. Secara teknologi memang sangat maju, tetapi tidak sebanding dengan MotoGp yang terus menambahkan berbagai perangkat baru. Harus ada batasan," kritiknya.

Mulai musim depan, GP Australia dijadwalkan bakal beralih ke sirkuit jalanan di Kota Adelaide. Mengenai perubahan ini, Stoner meragukan tingkat keamanannya.

"Sepertinya mereka akan mencoba balapan di sirkuit dalam kota. Menurut saya, mustahil membuat sirkuit jalanan yang benar-benar aman. Seperti yang terjadi pada Marco Bezzecchi di Assen, ketika dia nyaris menabrak dinding pembatas. Bahkan di trek permanen yang punya area run-off yang luas, pembalap tetap masih bisa menabrak dinding," kata Stoner.

Bagi Stoner, hilangnya Phillip Island merupakan kerugian besar bagi kancah MotoGP global.

"Phillip Island berada di lokasi yang fantastis. Memang tidak mudah untuk mencapai tempat itu dan fasilitas di sekitar trek juga tidak memadai. Tetapi justru sepadan dengan kualitas treknya. Trek tersebut selalu menyuguhkan balapan terbaik setiap musim, selalu memberikan sesuatu yang istimewa. Dan sekarang kita kehilangan semua itu, yang benar-benar sangat saya sesalkan," pungkasnya.

Ragu Aturan Baru MotoGP 2027 dan Kekhawatiran Aksi Menyalip

Tak berhenti di situ, Stoner turut mengkritik ketergantungan MotoGP modern pada perangkat elektronik seperti anti-highside hingga stability control. Ia menilai canggihnya teknologi justru mengikis bakat alami pembalap dan menggeser panggung dari aksi ketangkasan pembalap ke arena adu mekanik insinyur.

Baca Juga: Bongkar Dapur Ducati: Alotnya Negosiasi Kontrak Marc Marquez hingga Alasan Utama Depak Pecco Bagnaia demi Pedro Acosta

Mengenai regulasi mesin 850cc yang bakal diterapkan pada 2027, Stoner juga menyuarakan keraguannya. Menurutnya, pemangkasan kapasitas mesin belum tentu menjamin balapan menjadi lebih menarik jika efek aerodinamika tetap dominan dan zona pengereman makin memendek, yang berisiko membuat aksi overtaking kian sulit dilakukan.

Ia menegaskan lebih merindukan eranya saat motor sulit dikendalikan, di mana pembalap harus memeras keringat untuk mengatur daya cengkeram ban serta mengontrol respons mesin secara manual. Menurutnya, di situlah identitas dan nilai murni balap motor diuji.

 

Editor : Imron Hidayatullahh
phillip island 850cc casey stoner ducati MotoGP