Radar Jember – Tensi persaingan di panggung Moto3 2026 kian mendidih meski kompetisi baru saja menuntaskan delapan seri balapan.
Sorotan tajam musim ini tertuju pada sepak terjang barisan pembalap pendatang baru (rookie) yang penampilannya langsung menggebrak lintasan.
Dari total delapan debutan yang mengaspal, tiga nama mencuat sebagai aktor paling kompetitif setelah sukses mengamankan podium, yakni Brian Uriarte dari tim Red Bull KTM Ajo yang sudah mengantongi kemenangan, Veda Ega Pratama, serta rider andalan Malaysia, Hakim Danish.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Ngaku Ogah Kejar Rookie of the Year: Ini Targetnya di Moto3 2026
Di bawah polesan dingin mantan manajer Marc Marquez, Emilio Alzamora, rider muda asal Indonesia, Veda Ega Pratama, tampil sangat menjanjikan bersama Honda Team Asia.
Pemuda asal Gunungkidul tersebut sukses mengunci dua kali podium ketiga pada seri GP Brasil dan GP Prancis, bahkan sempat lama bertengger di puncak klasemen debutan.
Pasca-berakhirnya seri balapan di GP Hungaria pekan lalu, Veda kini menempati peringkat kedua klasemen rookie dengan koleksi 71 poin, hanya terpaut tipis satu angka dari Brian Uriarte yang memimpin di posisi teratas.
Sementara itu, Hakim Danish yang membela panji MT Helmets-MSI membuntuti di peringkat ketiga klasemen rookie dengan raihan 48 poin.
Walau posisinya masih berada di bawah bayang-bayang Uriarte dan Veda Ega, pembalap asal Negeri Jiran tersebut memperlihatkan konsistensi tinggi dan telah mencicipi podium perdananya musim ini setelah bertarung sengit di sirkuit Mugello pada GP Italia.
Progres positif ini rupanya memantik perhatian khusus dari tokoh balap legendaris Malaysia yang juga mantan bos tim Yamaha Sepang Racing Team era 2019-2021, Razlan Razali.
Pria yang juga pernah memimpin Sirkuit Sepang tersebut memberikan masukan taktis agar Danish tidak menghabiskan waktu terlalu lama di kelas tumpuan Moto3.
Razali mendesak agar sang pembalap beserta jajaran manajemennya langsung menyambar peluang untuk melompat ke kelas Moto2 apabila momentum dan jalurnya sudah terbuka lebar.
"Saya telah menyarankan baik kepada Danish maupun Zulfahmi Khairuddin (manajer Danish, Red) agar tidak terlalu lama bertahan di satu kelas," ungkap Razali seperti yang dilansir dari media NST.
"Jika ada kesempatan untuk naik kelas, maka mereka harus memanfaatkannya," sambungnya menegaskan pentingnya lompatan karier.
Kendati demikian, Razali memberikan catatan kritis bahwa Danish wajib memantaskan kualitas balapnya agar dilirik oleh tim-tim elite di kelas menengah.
Indikator kelayakan tersebut diukur dari kemampuan Danish untuk menyudahi kompetisi musim ini dengan finis minimal di peringkat lima besar klasemen akhir Moto3.
"Tentu saja, Danish harus layak mendapatkan kesempatan naik kelas. Secara pribadi, saya merasa bahwa jika dia berada di lima besar Moto3 dan ada tim yang bersedia membawanya ke Moto2, mengapa tidak? Itulah pandangan saya," cetus Razali.
Lebih lanjut, Razali menekankan bahwa konsistensi di lintasan jauh lebih bernilai ketimbang sekadar mengejar titel juara dunia Moto3 demi bisa menembus kelas utama MotoGP.
Ia mencontohkan perjalanan karier rider LCR Honda saat ini, Diogo Moreira, yang mampu naik kelas berkat performa impresif yang stabil.
"Biasanya butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan balapan di Moto2, tapi kita juga telah melihat apa yang dilakukan pembalap seperti Diogo Moreira," jelas Razali.
"Anda tidak harus menjadi juara Moto3 sebelum naik kelas, jika Danish bisa tetap konsisten dengan hasil 5 besar, saya pikir dia layak untuk naik ke Moto2,” imbuhnya.
“Anda bisa bertahan sedikit lebih lama di Moto2, itu tidak masalah karena begitu bisa menunjukkan performa yang bagus, peluang untuk naik ke MotoGP akan lebih besar. Tentu saja tidak ada yang bisa dijamin, tapi hal itu akan mempermudah segalanya," pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh