Radar Jember – Penggemar balap motor pasti kenal Santi Hernandez. Kepala teknis (Crew Chief) tim Honda ini adalah salah satu sosok paling dihormati di paddock MotoGP.
Tahun ini, ia merayakan 30 tahun pengabdiannya di dunia balap motor, di mana sebagian besar masa jayanya dihabiskan untuk mengawal Marc Marquez meraih gelar demi gelar juara dunia.
Awal Karier yang Tak Sengaja: ‘Cuma Pengen Kerja di Bengkel’
Dikutip dari laman Motosan, Santi menceritakan bahwa perjalanannya ke MotoGP sebenarnya terjadi karena ketidaksengajaan. Awalnya, ia hanyalah mekanik di sebuah bengkel kecil di Martorellas.
Baca Juga: Aprilia Tak Terima Kemenangan Marc Marquez di Jerez 2026, Desak MotoGP Perketat Aturan Pit Lane
"Suatu hari saya ditawari pekerjaan di Showa karena mereka butuh tenaga muda. Saya bilang ya, kenapa tidak? Tapi jujur, saat itu saya tidak pernah terpikir bahwa tujuan hidup saya adalah terjun ke dunia balap," kenang Santi.
Uniknya, saat debut di GP Austria, sesi latihan pertama dibatalkan karena hujan deras. Santi menghabiskan sepanjang hari di dalam truk, bukan untuk mengoprek mesin, melainkan belajar demi mendapatkan SIM truk.
"Dulu bos saya bilang, target utamamu bulan Januari adalah harus punya SIM truk!" ceritanya sambil tertawa.
Era Emas Bersama Rossi, Criville, hingga Marc Marquez
Tiga dekade bukanlah waktu yang singkat. Santi pernah merasakan manisnya gelar juara dunia bersama Alex Criville pada 1999 di Showa, serta bekerja sama dengan nama-nama besar seperti Valentino Rossi dan Sete Gibernau.
Namun, hatinya tertambat pada masa-masa membangun tim Moto2 dari nol bersama Marc Marquez. "Bukan karena dia Marc Marquez si bintang besar, tapi karena kami membentuk grup manusia yang luar biasa dari nol. Meraih juara dunia di tahun kedua bersama Marc adalah kebanggaan yang sulit diulang," ungkapnya.
Momen Paling Spesial: Melihat Marc Tumbuh dari 'Bocah'
Meskipun gelar juara MotoGP 2013 sangat bersejarah karena merupakan tahun debut mereka di HRC (Honda Racing Corporation), Santi tetap menganggap masa Moto2 adalah yang paling indah.
"Bagi saya yang paling spesial adalah dua tahun di Moto2 saat Marc masih anak-anak. Saya melihat dia tumbuh dari usia 16-17 tahun. Kami banyak tertawa, dia benar-benar bagian dari tim kami. Meraih kesuksesan bersama tim milik sendiri itu rasanya beda," tambahnya.
Baca Juga: CEO Ducati Buka Suara: Dominasi Kami Mulai Goyah, Pengumuman Masa Depan Marc Marquez Segera Tiba!
Perpisahan dengan Marc: ‘Kami Tetap Sahabat Selamanya’
Setelah bertahun-tahun sukses di HRC, Santi harus rela melepas Marc yang memilih pindah ke Ducati. Walau banyak yang mengira mereka akan pensiun bersama, Santi sadar bahwa dunia balap sangat dinamis.
"Saya merasa sangat beruntung bisa menang banyak gelar bersamanya. Marc bagi saya adalah yang terpenting, bahkan mungkin yang terbesar di MotoGP. Yang paling berharga adalah persahabatan kami. Suatu hari dia akan pensiun, saya pun begitu, tapi pertemanan itu akan tetap ada selamanya," ungkapnya.
Apakah Akan Reuni di Masa Depan?
Santi bersikap realistis saat ditanya kemungkinan bekerja sama kembali dengan Marc. "Saya rasa tidak. Dia sekarang di Ducati, sudah kembali tersenyum dan menikmati balapan lagi. Secara profesional, masa kami sudah berakhir. Marc punya jalannya sendiri, saya punya jalan sendiri di Honda. Dan jujur, saya tidak melihat Marc akan terus membalap sampai usia 40 atau 45 tahun," katanya.
Menutup pembicaraan, Santi juga menyinggung soal regulasi baru 2027 yang akan membawa perubahan besar, mulai dari mesin 850cc, bahan bakar, hingga penghapusan berbagai perangkat elektronik dan aerodinamika. Bagi Santi, itu akan menjadi tantangan baru yang sangat menarik di penghujung kariernya.
Editor : Imron Hidayatullahh