Radar Jember – Bintang muda Red Bull KTM, Pedro Acosta, melontarkan peringatan serius mengenai masa depan di tengah kalender MotoGP yang kian padat.
Di usianya yang baru menginjak 21 tahun, pembalap sensasional asal Spanyol ini mengkhawatirkan dampak akumulatif dari format kompetisi saat ini yang dinilai dapat memperpendek usia karier seorang atlet profesional.
Acosta menyoroti beban kerja yang luar biasa dalam satu musim, di mana para pembalap harus melakoni total 44 balapan (kombinasi Sprint dan Main Race).
Menurutnya, tingkat intensitas yang tinggi tanpa jeda yang cukup bukan hanya menguras fisik, tetapi juga mendorong stres psikis hingga ke titik batas.
"Menurut saya yang buruk dari kalender ini adalah karier para pembalap akan lebih pendek. Tingkat stres yang dapat kita tanggung akan mencapai batasnya," tegas Acosta, dikutip dari laman Motorsport.
Hilangnya Ruang untuk Adaptasi
Salah satu poin krusial yang dikritik Acosta adalah hilangnya waktu bagi pembalap untuk melakukan penyesuaian di lintasan.
Dalam format saat ini, setiap sesi sejak Jumat hingga Minggu—mulai dari latihan, kualifikasi, hingga balapan—memiliki bobot kepentingan yang tinggi.
Hal ini memaksa pembalap untuk tampil 100 persen tanpa henti.
"Maksud saya, tidak ada waktu di akhir pekan ketika Anda bisa berkata: 'Oke, saya akan mengatur kecepatan saya selangkah demi selangkah.' Setiap hari Anda memiliki sesi penting, 22 kali per tahun," jelasnya.
Kondisi ‘siaga satu’ yang terus-menerus ini dinilai sangat melelahkan secara mental.
Risiko Cedera yang Mengintai
Acosta sebenarnya tidak keberatan dengan ide Sprint Race atau sesi latihan yang lebih singkat.
Namun, yang ia persoalkan adalah frekuensi seri balapan yang terlalu berimpitan.
Menurutnya, ketika risiko diambil setiap hari tanpa waktu pemulihan yang cukup, persentase terjadinya kecelakaan dan cedera serius akan meningkat drastis.
Bagi pembalap yang baru menjalani dua musim di kelas utama ini, cedera di tengah jadwal yang padat adalah mimpi buruk yang bisa menghentikan karier secara prematur.
Ia berharap ada peninjauan kembali terhadap distribusi jadwal seri balapan agar para talenta MotoGP dapat memiliki karier yang panjang dan berkelanjutan.
"Jika kita ingin mempertahankan pembalap selama karier yang panjang, kita tidak bisa mengambil risiko setiap hari. Ini bukan soal jumlah balapannya, tapi jadwal yang terlalu padat," pungkas Acosta.
Rumor Loncat ke Ducati
Sebelumnya, pembalap bernomor 37 ini dirumorkan bakal hengkang dari KTM dan pindah ke garasi Ducati pada musim 2027.
Menggeser posisi Francesco Bagnaia yang kabarnya bakal merapat ke Aprilia.
Acosta bahkan menganku antusia jika bisa satu garasi fengan Marc Marquez di Ducati.
"Bagi saya, itu pasti akan menjadi mimpi yang menjadi kenyataan. Menurutku, cukup banyak orang di paddock ini, kecuali mungkin saudaranya (Alex Marquez, Red), yang rela membayar untuk bisa menghabiskan satu tahun atau berapa pun lamanya bersama Marc sebagai rekan setim. Mengapa saya tidak mau melakukannya?," ujar Acosta, dikutip dari laman Motorsport.
Sebaliknya, hal ini diprediksi akan memeremajakan keberingasan daya juang Marc Marquez di lintasan, yang mungkin sedikit meredup seiring usia.
Pengamat memprediksi persis seperti ketika Jorge Lorenzo memperpanjang masa kejayaan Valentino Rossi di masa lalu.
Editor : Imron Hidayatullahh