Radar Jember - Enam tahun penantian panjang akhirnya berakhir.
Setelah 2.184 hari sejak gelar terakhirnya di Thailand 2019, Marc Marquez kembali ke puncak dunia.
Di Sirkuit Motegi, pembalap asal Cervera itu menuntaskan kisah luar biasa dengan merebut gelar juara dunia MotoGP ketujuh—kali ini bersama Ducati.
Bagi Dani Pedrosa, mantan rekan setim Marquez di Repsol Honda, pencapaian itu bukan sekadar gelar.
Dalam wawancara eksklusif di DAZN, Pedrosa menyebut keberhasilan itu sebagai “sebuah tonggak sejarah.”
“Menjadi juara lagi setelah semua cedera itu mengingatkan saya pada Mick Doohan,” ujar Pedrosa, dinukil Radar Jember dari laman .
“Marc mengalami hal serupa dengan lengannya. Tapi ia juga berani mengambil keputusan sulit — meninggalkan tim lamanya, pindah ke Ducati, dan mendominasi lagi seperti ini,” tambahnya.
Pedrosa menilai keberhasilan itu mencerminkan keberanian dan keteguhan hati Marquez.
Setelah bertahun-tahun berjuang melawan cedera dan masa sulit di Honda, Marquez berhasil bangkit, beradaptasi dengan motor baru, dan menulis bab baru dalam kariernya yang kini berwarna merah Ducati.
“Dia sudah meraih 31 kemenangan, baik di Sprint maupun balapan utama. Gambarannya di Motegi 28 September lalu akan dikenang selamanya,” ucap Pedrosa dengan nada kagum.
Dari Rival Jadi Pengagum
Pedrosa juga mengenang pertama kali melihat bakat muda Marquez di kejuaraan nasional Spanyol.
“Dia masih kecil waktu itu, motornya kebesaran. Tapi dari cara dia jatuh dan bangkit, saya tahu dia istimewa,” kata Pedrosa.
Ketika Marquez bergabung dengan Repsol Honda pada 2013, Pedrosa sudah menjadi panutan di tim tersebut.
Namun, sejak hari pertama, Marquez langsung menunjukkan kecepatannya.
“Dalam beberapa lap saja, dia sudah di level teratas. Saat itu saya sadar, kami punya lawan berat di dalam garasi sendiri.”
Musim itu, Marquez menorehkan sejarah sebagai juara dunia termuda MotoGP, dan hubungan keduanya pun berubah—dari rival sengit menjadi rekan yang saling menghormati dan mengagumi.
“Marc Hidup di Antara Rekor dan Kecelakaan”
Bagi Pedrosa, hal yang paling membedakan Marquez dari pembalap lain bukan sekadar teknik atau gaya balapnya, melainkan keberaniannya.
“Marc punya teknik, seni, dan insting luar biasa. Tapi yang paling penting, dia berani. Dia tahu kapan harus ambil risiko di titik antara rekor dan kecelakaan,” jelas Pedrosa.
“Bahkan saat kondisi lintasan buruk—dingin, berangin, ban tak menggigit—dia tetap gaspol. Itu keunggulannya dibanding semua pembalap lain,” tambahnya.
Menurut Pedrosa, keberanian semacam itu adalah DNA sejati Marquez.
Ia selalu menari di garis tipis antara bahaya dan kejayaan, dan justru di sanalah ia menemukan kehebatannya.
Soal Masa Depan: “Saya Tak Melihatnya Kembali ke Honda”
Spekulasi tentang kemungkinan Marquez kembali ke Honda pun muncul, namun Pedrosa menepis kemungkinan itu.
“Sekarang saya tidak melihat hal itu terjadi,” tegasnya.
“Marc sudah nyaman di Ducati. Ia sudah 32 tahun, dan dia sendiri bilang tak berencana kembali,” sambungnya.
Pedrosa yang kini menjadi test rider KTM menambahkan, Ducati telah memberi Marquez segalanya–kepercayaan, kebebasan, dan motor yang bisa menang.
“Dia akhirnya menemukan tempat di mana ia bisa menikmati balapan lagi,” katanya.
Soal 2026: “Tentu Dia Masih Bisa Juara Lagi”
Apakah Marquez bisa menambah gelar kedelapannya tahun depan? Pedrosa tak ragu sedikit pun.
“Tentu bisa. Dia masih punya tenaga, semangat, dan pengalaman. Mungkin kompetisinya makin ketat, tapi dia tetap salah satu yang terbaik,” ujarnya.
Pedrosa menutup dengan satu pengingat:
“Dalam sepuluh tahun terakhir, hanya dua pembalap yang bisa juara dunia dua kali berturut-turut—Marc Marquez dan Pecco Bagnaia. Itu saja sudah cukup menunjukkan levelnya,” pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh