Menuju Sumber Telok, pengendara roda dua maupun roda empat harus menitipkannya di teras rumah warga. Untuk menuju ke sana, perlu berjalan kaki sejauh seratus meter saja.
Perjalanan tak akan membuat lelah, hijaunya pemandangan nan menyegarkan yang akan tampak di sekeliling. Sampai di sumber air utamanya, harus sedikit menapaki turunan. Terlihat mata air yang mengalir deras dari tiga buah bambu. Airnya jernih dan menyegarkan.
Ketua Pokdarwis Desa Klungkung Kecamatan Sukorambi Muhammad Fikri menuturkan, air yang mengalir dari dalam tanah itu bisa diminum langsung. Tak ada yang beli. Teko-teko air warga sekitar banyak yang diambil dari Sumber Telok. "Airnya segar dan bisa diminum," ucapnya.
Selain sebagai air minum, masyarakat setempat biasanya memanfaatkannya sebagai tempat mandi dan mencuci pakaian. Pagi dan sore hari kerap ramai dengan aktivitas warga tersebut. Aliran air yang memancar mengikuti arah galian saluran irigasi. Mengarah ke sawah-sawah petani juga ke sungai. Untuk itulah keberadaannya sangat dijaga warga. Apabila bambu mulai rapuh, akan diganti dengan yang baru.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember saat berada di lokasi, airnya benar-benar segar saat diminum. Cukup menggunakan rapalan tangan untuk mewadahi. Lebih sejuk ketika membasuhnya di wajah. Apalagi saat siang hari. Tempatnya teduh karena dikelilingi pohon, sehingga terik matahari hampir tak menembusnya.
Anggota BPD Klungkung, M Sobri menjelaskan, lahan yang menjadi pancara sumber mata air tersebut diapit oleh lahan milik empat warga desa setempat. Mereka bersepakat untuk sama-sama mempertahankan keberadaan Sumber Telok untuk kemanfaatan kehidupan masyarakat. "Pernah mau dibeli untuk dialirkan ke kota, tapi kepala desa menolak," pungkasnya. (sil/ham)
Editor : Radar Digital