BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID - KESENIAN ketoprak masih cukup digemari oleh masyarakat khususnya di Bondowoso. Setiap pertunjukan ketoprak selalu membuat emosi penonton campur aduk. Mulai dari adegan jenaka, romantis, hingga menegangkan selalu tersaji. Hal itu menjadi contoh yang positif dalam melestarikan budaya.
Ketua Grup Apresiasi Senin (GAS) Bondowoso Junaidi menjelaskan, bagi aktor pemain ketoprak harus bisa menguasai peran. Hal itu yang membuat para pemain ketoprak tertantang. Semangat yang dibangun sejak awal bisa membuat para remaja menyukai kesenian ketoprak. "Pemeran antagonis (pemeran jahat, keras kepala, atau musuh, Red) paling disukai sama anak-anak," katanya.
Menurutnya, menjadi aktor dalam seni ketoprak tidak begitu sulit. Cukup mempunyai mental yang kuat dan tidak demam panggung, maka sudah bisa menjadi aktor ketoprak. Untuk penguasaan karakter bisa dibentuk seiring berjalannya waktu. "Kalau untuk menghafal naskah atau penguatan karakter itu gampang. Asalkan tidak demam panggung dan mentalnya kuat," ungkapnya.
Pemeran utama memiliki tanggung jawab besar. Sebab, pemeran utama selalu menjadi sorotan. Contohnya, pemeran Ki Ronggo dalam kisah babat Bondowoso, maka sejatinya pemeran utama harus bisa menguasai setiap gerakan, bahasa maupun gestur tubuhnya. "Itu adalah tantangan yang paling berat bagi aktor utama," katanya.
Setiap penampilan ketoprak selalu dihiasi dengan alunan musik tradisional. Bahkan, para pemusik juga harus peka. Kapan harus bermain lagu sedih, kocak, maupun menegangkan. "Semua akan tersaji dalam suatu kisah yang kami sebut ketoprak milenial," pungkasnya. (faq/dwi)
FOTO-FOTO JUNAIDI UNTUK RADAR IJEN
Editor : Maulana Ijal