https://radarjember.jawapos.com/main_yuk/21/08/2022/filosofi-tarik-tambang-manusia-harus-terus-membumi/
Sebab, selain menjadi sarana rekreasi dan olahraga, permainan ini banyak mengajarkan nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat. Di antaranya melatih kepercayaan diri, kepercayaan sesame tim dan sikap gotong royong yang dibalut dalam kekompakan tim.
“Memang sulit dan melelahkan. Makanya harus ada strategi khusus agar meningkatkan kepercayaan dan kekompakan tim,” ujar Aminasir, salah satu pemain tarik tambang.
Pemuda asal Uranggantung, Sukodono ini mengungkapkan, perlu latihan intens agar kompak. Menurutnya kunci kemenangan dalam permainan ini adalah kekompakan tim. Oleh karena itu, para pemain harus berjuang dengan maksimal sesuai perannya.
Amin mengatakan, peran pemain berbeda-beda di tiga lubang yang sudah disediakan. Dua lubang pertama masing-masing diisi oleh dua pemain. Posisi mereka atas dan bawah. Pemain atas bertugas sebagai penarik. Sementara pemain yang di bawah sebagai pengancing. “Sedangkan di lubang terakhir itu ada bandol atau bisa disebut pasaknya,” katanya.
Postur tubuh pemain pun masuk dalam strategi. Rerata pemain tarik tambang tradisional ini berbadan kekar dan besar. Sementara pemain bandol berpostur lebih besar. Tentu, semua pemain harus mengerahkan seluruh tenaga. Sebab, durasi permainan ini tiga menit.
Sementara itu, kapten salah satu tim tarik tambang Joni menambahkan, perebutan kemenangan dalam waktu tiga menit itu sengit. Setiap tim akan saling menarik. Tarikan yang kuat dengan strategi jitu mampu membuat garis penentu kemenangan berpihak ke salah satu tim. Sebab di tengah tali tambang puluhan meter itu terdapat garis yang dapat menentukan kemenangan tim.
“Garisnya condong satu jari saja dan dipertahankan dalam waktu tiga menit sudah menang. Tetapi biasanya kedua tim saling adu strategi. Bisa dua menit pertama bertahan dan di menit akhir tarikannya ditambah. Masing-masing punya cara tersendiri,” pungkasnya.
Jurnalis: Muhammad Sidikin Ali
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Muchammad Ainul Budi Editor : Maulana Ijal