Danu menjelaskan, kendang yang biasa dipakai di rumahnya saat ini ada dua jenis. Yaitu kendang Jawa dan kendang reog. Ada pula beberapa kendang Banyuwangi, tetapi rusak. Nah, masing-masing kendang memiliki teknik yang berbeda dan suara yang berbeda pula. "Jenisnya banyak, suara yang dihasilkan juga berbeda-beda," imbuhnya.
Pelajar SMP yang sudah sejak kecil bermain kendang itu mengaku dirinya belajar secara autodidak. Menonton orang latihan dan menonton video-video kesenian tradisional. Dari situ, dia rajin mempraktikkan.
Secara teori, kendang memang sulit dijelaskan. Letak nada-nadanya kadang berubah. Di mana suara keplak yang renyah, terkadang juga pindah. Hal itu memerlukan kepekaan telinga agar bisa menabuh kendang dengan hasil suara yang baik.
Dia mencontohkan, apabila kulit hewan pada kendang sedikit kendur, maka suara yang dihasilkan kurang baik alias berubah. Di situ, kepekaan penabuh kendang dibutuhkan, sehingga saat perbaikan bisa kembali pada suara yang diharapkan. "Kalau hanya teori pasti sulit. Kalau mau belajar, lebih baik dipraktikkan," ucapnya.
Menabuh kendang memiliki berbagai teknik. Mulai dari pukulan satu dua jari, sampai pada menekuk pergelangan tangan. Teknik-teknik itu akan sulit dimengerti apabila dituangkan dalam teori hitam di atas putih. "Langsung menabuh kendang. Gerakan tangan maupun hasil suara akan lebih mudah diingat," ungkapnya.
Siapa saja sebenarnya bisa mempelajari teknik menabuh kendang. Akan tetapi, jika tidak dipraktikkan, maka gerakan tangan akan sangat lama untuk bermain lihai. "Saat menabuh kendang, kendangnya jebol sudah beberapa kali. Itu saat pementasan. Mau tidak mau, ya, diganti. Jadi, kalau mau belajar, lebih baik dipraktikkan langsung," cetusnya.
Jurnalis: Nur Hariri
Fotografer: Nur Hariri
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Maulana Ijal