Sekilas tak ada yang aneh, hampir sama jika dibandingkan dengan permainan kartu remi pada mulanya. Setelah mengocok kartu, si joki membaginya menjadi empat. Lantas kartu-kartu itu langsung ditata sedemikian rupa dengan menyisihkan kartu ace, king, queen, dan jack yang ada pada kartu mereka masing-masing.
“Ini adalah permainan bridge, yang biasa dipertandingkan dalam kejuaraan. Salah satunya adalah Pekan Olahraga Provinsi tahun depan,” ungkap Ketua Harian Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) Kukuh Wasono.
Karena pihaknya belum memiliki mesin pengocok kartu alias bridge sorter, kartu-kartu itu harus dikocok secara manual. Setelah dibagikan, Kukuh menerangkan bahwa setiap pemain bisa mengecek berapa point yang mereka punya dengan menghitung kartu yang mereka miliki. “Ace poinnya empat, king poinnya tiga, queen poinnya dua, dan jack poinnya satu,” lanjutnya. Sementara itu, kartu lain tidak memiliki poin alias nol. Setelah dihitung, berlanjut ke permainan selanjutnya.
Sekadar informasi, bridge merupakan permainan kelompok. Biasanya terdiri atas dua orang yang saling berhadapan. Sementara, lawan bermain juga duduk di posisi yang berlawanan alias saling berhadapan. Bukan bersebelahan. Nah, jumlah poin yang dimiliki dikomunikasikan pada tahap selanjutnya. “Bukan dengan kata-kata, tapi dengan kartu lain yang berada pada bidding box,” paparnya.
Atur strategi pun dimulai. Yakni, bagaimana bisa menyampaikan angka yang dimiliki kepada teman di depannya. Tentunya, sang lawan juga bisa membaca hal itu. Dengan begitu, pihak lawan juga perlu mengatur strategi agar bisa mengambil alih permainan.
Untuk bisa mempelajari permainan bridge secara keseluruhan, Kukuh menjelaskan bahwa seseorang yang awam bisa dengan mudah menjadi pemain bridge jika belajar selama dua bulan. “Jadi, kami ada metode sendiri hanya dengan berlatih sebanyak dua kali pertemuan dalam seminggu, selama dua jam,” pungkasnya.
Jurnalis: Isnein Purnomo
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri